RADAR JOGJA – Dolan di Jogja tak hanya di pusat ke kota. Bergerak sedikit ke tenggara kota, bisa menikmati wisata air di Bendung Lepen. Lokasi yang dulunya kumuh itu berhasil disulap menjadi wisata edukatif.

Biasanya pengunjung yang datang baik warga sekitar maupun wilayah se-DIJ. Mereka dari para komunitas, keluarga, maupun perorangan yang ingin menikmati pagi maupun sore hari di Bendung Lepen. “Ada sejak pagi pukul 05.00 peseda sudah sampai (Bendung Lepen). Kalau sore keluarga yang momong anaknya gitu,” tutur perwakilan Pengelola Bendung Lepen, Mrican, Giwangan, Andy Noor Wijanarko Jumat (22/1).

Karena itu, rencananya hari ini (24/1) akan dilakukan perluasan selokan atau saluran irigasi. Sebagai respon, banyaknya peminat atau pengunjung yang terus berdatangan. Maka kawasan selokan irigasi akan ditambah panjangnya yakni 50 meter dari awal panjang selokan irigasi sekitar 100 meter. “Kami akan kerjabakti lagi memperluas pembersihan selokan. Nanti untuk membersihkan sampah yang sudah memadat,” tambahnya.

Wisata yang disuguhkan di sana, selain ternak ikan-ikan, dimana masyarakat bisa memberi makan ikan dengan pelet yang dijual seharga Rp 2 ribu. Maupun, bisa mencelupkan kaki di kolam, dan mencicipi kuliner yang dijual di pinggiran Bendung Lepen.

Kampung wisata Bendung Lepen sungai Gajah Wong makin digandrungi pengunjung meski masih di tengah pandemi Covid-19. Setiap harinya tidak pernah sepi dari pengunjung warga sekitar atau wilayah DIJ untuk sekedar melepas sore hari.

Andy mengatakan, selama pandemi kawasan yang dulunya kumuh dan sebagai pekarangan ternak babi itu masih cukup digemari masyarakat. Salah satu daya ungkitnya, karena adanya selokan irigasi yang disulap menjadi selokan yang bersih. Didalamnya, ada ribuan ikan nila dan koi yang siap diberikan pakan dari para pengunjung. “Rekreasi utamanya disini ikan-ikan ini. Pengunjung membeli pelet pakan ikan untuk di berikan ke ikan-ikannya,” katanya.

Tak menyurutkan semangat, komunitas pemuda Bendung Lepen meski masih pagebluk korona. Menyusul pandemi, penerapan protokol kesehatan (prokes) Covid-19 ketat diterapkan di sana. Masyarakat yang masuk harus bermasker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan. “Kami turunkan 45 teman-teman di lapangan. Mereka berpencar untuk mengawasi jalannya prokes juga,” ujarnya.

Kapasitas orang yang masuk juga dibatasi 25 persen dari kapasitas awal sesuai ruang lingkup kawasan. Media rekaman sebagai himbauan juga dipasang pada pengeras suara. Untuk secara otomatis mengingatkan masyarakat yang abai prokes. Serta di ruang taman juga diupayakan agar tidak berkerumun. “Kalau misalkan sudah penuh kapasitasnya, pengunjung kami alihkan dulu untuk keliling di kawasan lain seperti wisata Dermaga Cinta sambil menunggu antrian masuk,” jelasnya.

Selain itu, prokes lain jam operasional juga dibatasi sampai pukul 19.00 yang awalnya pukul 22.00. Setiap seminggu sekali atau dua kali dilakukan penyemprotan disinfektan di kawasan tersebut. (wia/pra)

Jogja Utama