RADAR JOGJA – Diusia yang terbilang muda, Sintha Restu Wibawa terbilang sudah merasakan sukses dalam berkarir. Pernah menjadi Diajeng Kota Jogja pada tahun 2015-2016, perempuan asal Bambanglipuo, Bantul ini memiliki hobi berkesenian. Sebelumnya, pada 2014 dia telah mendirikan sanggar tari berlokasi di kediamannya.

Perempuan kelahiran Bantul ini juga mendalami ilmu kesehatan. Dia menempuh perguruan tinggi Strata Satu ilmu keperawatan di Universitas Gadjah Mada (UGM). Pada 2020 lalu, dia baru menyelesaikan kuliah S2-nya di Keperawatan Medikal Bedah. Dan di awal tahun ini, dia diterima sebagai dosen muda Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM.

Kendati begitu, semua proses yang dilalui tidak mudah. Banyak tantangan yang dilakukan. Disiplin waktu dan kerja keras menjadi utama menempuh karirnya.
Sintha menceritakan, kendala yang paling besar dia alami adalah pada saat dia menempuh tesis. Dalam keadaan hamil besar dan di tengah pandemi Covid-19, dia harus berjuang keras menyelesaikan tesis dan bertemu banyak orang. Sementara dia masuk kelompok rentan terpapar.
”Jadi sampai naik turun tangga kampus. Pakai masker, kondisi hamil besar,” ungkapnya, sambil menghela nafas lega. Saat dihubungi Radar Jogja, kemarin (22/1).

Bahkan, setelah melahirkan pun dia tetap sibuk mengurus pendadaran. Mencari tanda tangan dengan menggendong anaknya yang saat ini berusia lima bulan.
Tidak ada rasa lelah, justru anaknya itu menjadi sumber kekuatan dan perjuangan. Bekerja keras dan terbiasa dengan aktivitas yang padat, juga dibarengi sikap optimis yang kuat. Dia percaya setapak lagi, dia berhasil meraih impian. Yakni, menjadi seorang pendidik.

Sejumlah prestasi pun dia raih. Mulai dari penghargaan dibidang seni tari, menjadi delapan penari terbaik se-Asia pada 2013, lomba esai nasional, duta penelitian ilmiah. Hingga perwakilan Indonesia dalam Konferensi Internasional Teknologi di Malaysia pada 2019 lalu.

Perempuan berusia 27 tahun ini bernafas lega. Semua impiannya terwujud seiring lahirnya anak pertama. Dia merasa beruntung dan bersyukur. Selanjutnya, tinggal memasuki babak baru. Melakukan riset dengan berbagai inovasi mengedepankan IT. ”Selain itu juga merawat pasien dengan penuh pengabdian,” katanya. ”Prinsipnya, dream, believe dan make it happen,” imbuhnya. (mel/bah)

Jogja Utama