RADAR JOGJA – Tradisi bersirih atau yang lebih dikenal dengan sebutan menginang hingga susuran, tidak hanya dilakukan di Indonesia. Tidak dibatasi negara, tradisi itu hampir ditemui di seluruh Asia Tenggara hingga Asia Selatan.

Guru Besar Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM Prof Dr Paschalis Maria Laksono MA menjelaskan, bersirih adalah alat komunikasi, pergaulan dan pembuka wacana atau obrolan. Bersirih juga sebagai media sambung rasa.

Diyakini, bersirih sebagai sumber energi. Pasalnya, bahan bersirih mengandung zat psikoaktif yang sangat mirip dengan nikotin dan alkohol, sehingga tubuh akan memproduksi hormon adrenalin. Hal itu membuat orang yang bersirih bisa menjadi lebih tenang dan lancar saat berbicara. “Tidak terkontrol oleh ketakutan dan bisa termotivasi untuk berkata-kata. Seperti orang merokok yang bisa mengatasi kegelisahan,” kata Laksono Jumat (22/1).

Sirih pinang umumnya terdiri atas beberapa komponen. Yaitu buah pinang, daun atau bunga sirih, gambir, kapur sirih dan tembakau. Cara mengkonsumsinya cukup mudah. Dengan cara mencampur pinang, gambir dan kapur lalu dibungkus dalam daun sirih, dan dikunyah. Selain itu, ada pula yang menggunakan alat tumbuk sebelum sirih pinang disusur ke gihi dan gusi.
Jika rasa yang dihasilkan dari sirih pinang masih belum kuat, ada juga yang mebambahkannya dengan kapur sirih. Serta ada pula yang mebambahkan tembakau dalam bersirih.

Komponen bersirih yang telah dikunyah, akan bercampur dengan saliva atau air liur menghasilkan warna merah kecoklatan. Kebiasaan ini tidak dibatasi gender dan usia. Laki-laki maupun perempuan dari usia muda hingga tua bisa memakan sirih pinang. Yang mana kebiasaan ini masih bisa ditemukan di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), Maluku, dan Papua. “Sekarang di Papua, kalau di kampus mahasiswa ada yang masih menyirih,” lanjutnya.

Untuk di wilayah Jogjakarta, komponen sirih pinang masih bisa ditemukan di pasar. Kebiasaan bersirih, juga masih ada di wilayah kampung-kampung. Hanya saja, kebiasaan ini sudah mulai ditinggalkan sejak 1950. Karena adanya perubahan sense tentang kebersihan. Mengingat bekas air liur berwarna merah hasil bersirih yang biasa diludahkan di sembarang tempat.

Laksono memiliki cerita tersendiri. Hanya dengan melihat tembakau dan bekas sirih pinang, yang ia bayangkan adalah tempat itu berhantu. Hal ini karena kebiasaan dan rasa takut yang diberikan pada anak segerasinya, membuat ia tidak pernah merasakan bersirih. “Namun nenek saya masih bersirih, memakai tumbukan saat sudah tidak mempunyai gigi. Sambil mulutnya komat-kamit karena susurnya bergeser ke kiri-kanan dan tangannya sibuk menumbuk sirih pinang,” bebernya.

Bersirih juga dipercaya baik untuk menjaga kesehatan gigi. Hal ini karena daun sirih merupakan salah satu resep tradisional yang berguna sebagai penguat gigi, menghilangkan bau mulut, menghentikan perdarahan pada gusi, dan juga sebagai antiseptik alami. (eno/laz)

Jogja Utama