RADAR JOGJA – Hampir setahun pandemi Covid-19 dan peningkatan kasus terkonfirmasi positif, mulai berdampak pada stok logistik. Pemkot Jogja mulai membagikan makanan siap saji bagi pasien Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri di rumah masing-masing.

Itu karena stok logistik bahan makanan mentah yang didanai dari biaya tak terduga (BTT) BPBD Kota Jogja mulai menipis dan hampir habis. Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsoskertrans) Kota Jogja Maryustion Tonang mengatakan, dalam penanganan pagebluk korona ini tugas yang diembannya ialah memberikan dukungan logistik baik kepada pasien Covid-19 orang tanpa gejala (OTG) di Shelter Tegalrejo dalam bentuk makanan siap saji.

Maupun logistik bagi pasien Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri di rumahnya dalam bentuk bahan makanan mentah. Namun, awal tahun ini logistik bahan mentah tersebut dihentikan. “Awal posisi tahun ini stop terhadap bahan baku tersebut. Karena kan sudah menipis dan habis, tentunya pasien yang isoman (isolasi mandiri) di rumahnya tidak mungkin dinengke wae,” katanya Jumat (22/1).

Tion, sapaanya, menjelaskan, Sebagai pengganti kini disiapkan makanan siap saji atau siap konsumsi, diberikan tiga kali dalam sehari. Ini dilakukan untuk dukungan terhadap pasien isoman di rumah masing-masing. “Makanan siap konsumsi itu dikemas dalam wujud boks. Kami lakukan dan berikan sehari tiga kali,” ujarnya.

Sehingga, personel dapur umum yang dipelopori oleh taruna siaga bencana yang disingkat Tagana tidak hanya sebatas mempersiapkan kebutuhan makanan siap saji untuk Shelter semata melainkan juga mendukung terhadap masyarakat yang tengah menjalani isolasi mandiri di rumahnya. “Tentu mereka yang isolman di rumah ini sebagaimana rekomendasi atau asesmen dari puskesmas setempat,” jelasnya.

Bagaimana teknis pendistribusiannya? Sesuai koordinasi dan kesepakatan dengan 45 Kelurahan. Maka untuk pengambilan makanan siap saji bisa dilakukan oleh wilayah baik RT, RW setempat di Dapur Umum yang terletak di Jalan Tegalturi. Ini dikarenakan adanya keterbatasan personel Tagana. “Karena Tagana juga mengelola dalam teknis operasional di shelter yang terbagi dalam tiga shift. Sebetulnya ini juga bagian dari mengejawantahkan sesanti segoro amarta yang ada empat pilar itu,” terangnya yang menyebut sesanti empat pilar yaitu kesidiplinan, kepedulian, kemandirian, dan kegotongroyongan.

Program ini belum dipastikan akan berlangsung sampai kapan. Tentunya, disesuaikan dengan anggaran dan budgeting yang ada. Ini sebagai upaya merespon adanya kehabisan stok logistik bahan mentah. Meski dalam pengelolaannya tetap ada kuota limit. “Kita harus bisa memprediksi terkait kebutuhan untuk itu. Tapi harapan kami pola itu tetap berjalan sesuai dengan budget kita,” tambahnya.

Terpisah, Koordinator Dapur Umum Wahyu Hasanah mengatakan layanan dapur umum untuk pasien Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri di rumah sudah berjalan kurang lebih empat hari ini. Pembuatan berdasarkan pengajuan atau permintaan dari wilayah. Wilayah datang ke Kelurahan. Kelurahan memberi surat ke Dinsoskertrans lalu dapur umum akan menerima surat rekomendasinya. “Kami melayani beberapa kelurahan isolman di rumah, ada kelurahan Tegalpanggung, Giwangan, Waurngboto, Ngampilan, Terban,” katanya.

Menurut data yang ada, sampai dengan Jumat (22/1) telah membuat 94 boks makanan siap saji untuk dukungan logistik penyintas shelter, pasien isoman di rumah, maupun para petugas. Dari jumlah itu, di antaranya 51 boks untuk pasien isolasi mandiri di rumah. Dan data itu akan bertambah terus setiap harinya.

Menu yang dibuat bagi pasien isolasi mandiri di rumah ini tidak jauh berbeda dengan yang di shelter. Seperti nasi lunak jika ada balita atau lansia dan tambah porsi lebih besar untuk Ibu hamil. Permakanan ini akan didistribusi tiga kali dalam sehari, untuk pengambilan pagi pukul 07.00, siang pukul 12.00, dan sore pukul 18.00. “Menu satu kali makan dengan harga Rp 20 ribu. Menu sore dapat extra fooding, siang dapat jus, dan sore ada snack,” imbuhnya. (wia/pra)

Jogja Utama