RADAR JOGJA – Sebagai orang yang pernah menyaksikan beberapa kali ketoprak tobong, adegan dagelan adalah yang paling ditunggu-tunggu. Seniman lukis Yaksa Agus sudah menyukai pertunjukan ketoprak tobong sejak usia TK sekitar tahun 1985 silam.

Awalnya tertarik karena menyukai gambar-gambarnya. Selain juga tempat tinggal di wilayah tempat latihan ketoprak. Sehingga, ketertarikan itu semakin kental. “Salah satunya adegan dagelan itu yang paling ditunggu,” katanya.
Pria berusia hampir 46 tahun ini keseringan menyaksikan ketoprak bersama simbahnya di lapangan Karang, Kotagede. Ketoprak tobong yang modern dengan garapan dan penyajian relatif paling menarik saat itu adalah Ketoprak Siswo Budaya yang pentas tahun 1994 silam di Alun-Alun Utara. “Tiketnya mahal, dulu Rp 1.000,” ujarnya.

Menurutnya, ketoprak tobong ketika penonton relatif banyak maka suasana penampilannya juga akan lebih seru. Sebaliknya jika penontonnya sedikit, penampilannya akan terlihat tidak maksimal. Sehingga tidak ada interaksi antarpemain dengan penonton. “Terakhir yang paling kasihan, rasanya ketoprak tobong yang digelar tahun 2002 karena nyaris tidak ada penonton,” jelasnya.
Hanya saja, lanjutnya, kalau malam Minggu penontonnya relatif ramai.

“Kenangan yang paling saya suka adalah nonton gambar poster di depan, gambar backdrop alias tonil-nya yang bisa ganti-ganti,” ungkapnya, yang meyebut hingga sekarang belum pernah lagi menyaksikan ketoprak tobong.
Berbeda dengan Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi (HP). Meskipun terbilang jarang menyaksikan ketoprak tobong, ia megaku semua jenis ketoprak sejatinya seperti sebuah pertunjukan yang harus diperlihatkan dan diperbincangkan. “Kalau dibandingkan sekarang, ya mungkin sama kalau sekarang kita nonton bioskop,” katanya.

Dengan ketoprak orang bisa bercerita tentang skenario cerita, tokoh perwatakannya maupun dagelan. Sebab, melihat ketoprak sekarang seperti ritual. Jika ada pertunjukan ketoprak, ya banyak yang nonton dan gedung atau panggung pertunjukan dipastikan penuh.

“Jadi sesering kita kalau nonton bioskop. Menariknya ketoprak ya karena ceriteranya atau pemain ketoprak favorit. Kalau saya seperti Marsidah dan suaminya Widayat dan sebagainya,” tambah alumni Fisipol UGM yang menyebut menyukai kesenian ketoprak sejak usia SD-SMP atau sekitar 1975-1980. (wia/laz)

Jogja Utama