RADAR JOGJA – Peningkatan kasus terkonfirmasi positif di Kota Jogja membuat kalangan DPRD Kota Jogja meminta pertanggung jawaban pemkot. Terutama karena penolakan penutupan kawasan Tugu hingga Titik Nol Kilometer saat malam tahun baru lalu.

Mantan Ketua Pansus Covid-19 DPRD Kota Jogja Antonius Fokki Ardiyanto menuntut tim Satgas Penanganan Covid-19 Kota Jogja untuk bertanggungjawab atas kenaikan kasus tersebut. “Karena telah mengabaikan rekomendasi pansus pada malam pergantian tahun. Terbukti seminggu kemudian meledak yang terpapar Covid-19,” katanya Jumat (15/1).

Padahal, pada saat itu pertanggung jawaban secara politik telah diserahkan kepada masing masing fraksi di lembaga perwakilan tersebut. Sebab hasil rekomendasi juga telah mendapatkan persetujuan seluruh anggota pansus yang mewakili seluruh fraksi termasuk PAN. “HP (Heroe Poerwadi) sebagai Ketua DPD PAN Kota Jogja yang fakta politiknya telah diabaikan selaku pemangku kepentingan yang menerima rekomendasi,” ujarnya.

Politisi Fraksi PDI Perjuangan itu juga menyebut, akibat kenaikan kasus yang terjadi terdapat para korban yang meninggal karena tidak mendapatkan layanan yang memadai dan cepat di rumah sakit. “Konsekuensi secara hukum saya serahkan kembali kepada seluruh pemangku kepentingan dan aparat penegak hukum dalam menindaklanjuti situasi ini,” tambahnya.

Ketika dikonfirmasi Ketua Harian Satgas Penanganan Covid-19 Kota Jogja Heroe Poerwadi (HP) mengatakan sebenarnya peningkatan kasus Covid-19 akhir-akhir ini tidak berkaitan langsung dengan perayaan malam pergantian tahun. Sebab, kasus sudah mengalami peningkatan sejak November lalu. “Peningkatan kasus itu terjadi sejak November dan sampai sekarang kasus yang muncul tiap hari masih cukup besar. Tetapi dalam seminggu terakhir, angkanya ada kecenderungan turun,” katanya.

Peningkatan kasus yang terjadi di akhir tahun lalu, dikatakan bukan hanya terjadi di kota Jogja. Tetapi, juga dialami disemua wilayah kabupatan/kota di Indonesia. Terlebih, peningkatan juga terjadi di kota-kota seluruh dunia. “Artinya juga bahwa peningkatan kasus memang terjadi di semua wilayah,” ujarnya.

Apa penyebabnya? Dia menyebut, ini juga belum dikaji secara menyeluruh. Apakah karena varian virus yang baru dengan sebaran lebih cepat dan lain-lain. Namun, faktanya kenaikan memang terjadi di seluruh dunia. “Jadi tidak bisa hanya disebabkan karena satu hal, sebab proses waktu yang lama dan banyak hal terkait dengan hal itu pula,” tandasnya.

Pun, diklaim aktifitas malam pergantian tahun lalu sudah diupayakan di kawasan Gumaton. Terbukti, tidak ada kerumunan yang berarti dan dapat terkendali. Ini karena sejak awal Pemkot Jogja sudah merekayasa agar kendaraan dan orang tidak mudah masuk ke kawasan Gumaton. Dia mencontohkan, jumlah yang terdata dalam QR Code di Malioboro tercatat 2.015 pengunjung sejak pagi sampai pagi tahun baru. Artinya ini masih kalah banyak dibandingkan data harian yang sekitar 2.500-3 ribu orang. Jika dengan weekend sekitar lima ribu pengunjung. Bahkan jika dibandingkan dengan lima hari liburan akhir Oktober yang mencapai 19 ribu pengunjung.

Selain itu, di tujuh rumah sakit rujukan Kota Jogja pun dia mengklaim belum pernah mengalami sampai kehabisan bed atau kamar perawatan. Hanya, khusus kamar yang terdapat alat ventilator memang diklaim pernah terjadi antrean. “Tetapi untuk kamar yang ada ventilator, memang pernah terjadi ada antrian. Dan biasanya kita carikan di rumah sakit luar kota,” jabarnya.

Namun demikian, kasus sama ternyata terjadi di sejumlah kota sekitar yang memiliki kamar ICU ventilator juga penuh. Sehingga, terus mencarikan antisipasi lain. “Jadi kasus kamar penuh memang juga dialami oleh kabupaten lainnya. Artinya kasus Covid-19 yang semakin meningkat memang sarana kamar yang berventilator sangat terbatas,” bebernya. (wia/pra)

Jogja Utama