RADAR JOGJA – Sambil menunggu terbitnya izin edar darurat vaksin atau emergency use authorization (EUA) dari BPOM, daerah mempersiapkann tenaga vaksinator. Tenaga kesehatan punya tanggung jawab baru sebagai vaksinator.

“Ya karena ini kan penyakit baru, jadi harus dilakukan pelatihan,” ujar Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Jogja Emma Rahmi Aryani kemarin (6/1). Emma menjelaskan, sebelum proses distribusi vaksin, mempersiapkan petugas vaksinator menjadi penting. Petugas ini yang nantinya mendukung pemerintah melaksnakan vaksinasi. Sebelum melaksanakan vaksinasi, mereka perlu dilatih.

Jumlah vaksinator yang sudah disiapkan dan dilatih selama empat hari sebanyak 42 petugas terdiri dari Dokter, Bidan, dan Perawat. Jumlah itu yang tersebar di 18 Puskesmas se-Kota Jogja dan tiga Rumah Sakit Pemerintah.

“Sementara jumlah itu sudah dilatih semua. Masing-masing Puskesmas dan rumah sakit mengirimkan dua petugas vaksinator,” jelasnya.
Mantan Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan KB Kota Jogja itu mengindikasikan, pelatihan vaksinator akan ditambah. Terutama jika muncul kebijakan baru dan dimungkinkan harus ada pelatihan lagi untuk percepatan pelaksanaan vaksinasi. “Infonya kemarin ada lagi pelatihan dari Diskes DIJ pada 11-13 Januari,” tuturnya.

Semenatar itu Diskes Sleman mempersiapkan 75 orang. Terdiri nakes Puskesmas, faskes lain seperti klinik dan rumah sakit. Kepala Diskes Sleman Joko Hastaryo mengatakan, pada dasarnya pemberian vaksin ataupun imunisasi ini layaknya pemberian vaksin biasa. Vaksin berbentuk cairan yang disuntikkan secara intra maskuler menggunakan slip tip sterile sekali pakai.

Bedanya, vaksinasi ini perlu perhatian khusus. Lantaran, lahirnya vaksin yang dinilai lebih singkat dibanding vaksin-vaksin lainnya. Misalnya, vaksin polio, disteri dan tetanes. “Kan lama sekali prosesnya, ini kan termasuk cepat sekali,” ungkapnya. Sehingga, menurutnya, hal inilah yang dinilai masih menimbulkan keraguan dan menjadi sorotan. “Vaksin terdiri dari dua aspek penting. Yakni, efektivitas dan keamanannya,” kata dia.

Begitu pula di Kulonprogo. Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kulonprogo Baning Rahayujati mengatakan, sudah ada sebanyak 73 vaksinator di Kulonprogo yang telah mendapat pelatihan di Kemenkes. Ke depan rencananya juga akan ada pelatihan petugas vaksinator tahap kedua.”Kami juga sedang berproses melakukan assessment kepada RS atau klinik swasta yang berpotensi membantu dalam vaksinasi tahap berikutnya,” ujar Baning kemarin (5/1).

Baning melanjutkan, untuk sarana dan prasarana penyimpanan vaksin di Kulonprogo juga disebut sudah dalam kondisi siap. Fasilitas kesehatan yang digunakan sebagai tempat vaksinasi pun sudah memiliki lemari pendingin khusus vaksin Covid-19.”Di gudang farmasi milik Diskes saja sudah mampu menampung 847 liter. Carrier coolbox juga memadahi dan tersedia di puskesmas maupun gudang farmasi,” ungkapnya.

Sementara itu Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) DIJ Dewi Prawitasari, saat beraudiensi dengan Bupati Kulonprogo kemarin (6/1), menyebut daerah penerima vaksin wajib memiliki beberapa kriteria. Di antaranya memiliki memiliki chiller atau lemari pendingin sebagai tempat penyimpanan. Serta termhometer untuk memastikan suhu tempat penyimpanan aman sebagai penyimpanan vaksin.

Dewi juga meminta agar gudang penyimpanan vaksin juga wajib memiliki genset. Sehingga bisa menjadi langkah antisipasi apabila gudang penyimpanan terjadi pemadaman listrik. “Intinya kami akan melakukan pengawasan dan pendistribusian daerah-daerah dalam menyambut kedatangan vaksin,” ujar Dewi. (eno/inu/wia/pra)

Jogja Utama