RADAR JOGJA – Melonjaknya harga kacang kedelai impor di pasaran berdampak pada para pedagang tempe di sejumlah pasar di Kota Jogja. Berbagai cara dilakukan agar produksi tempe bisa tetap berjalan. Mulai dari penguruangan ukuran produksi maupun jumlah penjualan.

Kepala Bidang Ketersediaan Pengawasan dan Pengendalian Perdagangan, Dinas Perdagangan Kota Jogja, Sri Riswanti mengatakan, dampaknya terjadi di beberapa pedagang tempe Pasar Beringharjo dan Prawirotaman. Namun, paling banyak terjadi di pasar Prawirotaman. ”Dampaknya untuk pedagang tempe mulai Senin (4/1) pedagang sudah tidak banyak dagangan,” katanya.

Sebanyak 25 pedagang tempe di pasar Prawirotaman dan lima pedagang tempe di pasar Beringharjo beberapa hari terakhir ini pulang lebih awal, yakni pukul 10.00. ”Pasar Beringharjo beberapa hari ini tempe ukuran plastik juga sudah jarang ditemui, sudah enggak ada. Kalau tahu masih ada,” jelasnya.
Pun pihaknya tengah berupaya menyusun langkah agar dampak dari kenaikan harga kacang kedelai impor ini tidak terjadi cukup lama. Termasuk berkoordinasi dengan agen. “Kami belum koordinasi (dengan agen, Red). Karena memang baru kita coba untuk mempelajari ketugasan kami di bidang baru ini. Nanti kami segera akan melangkah ke sana. Mungkin hari ini atau besok,” teran mantan kepala UPT pusat bisnis .

Kepala Dinas Perdagangan, Yunianto Dwisutono menambahkan untuk antisipasi kedelai, pihaknya sudah melakukan pemantauan ke gudang distributor kedelai seperti arahan Kementerian Perdagangan. “Yang penting agar bisa segera stabil di harga Rp 9.000, yang sebelumnya sempat naik Rp 11.000 per kilogram. Kami akan mulai incharge besok pagi (hari ini,Red) bersama jajaran melakukan pendataan,” imbuhnya.

Sementara seorang perajin Tempe Tukirah, Sutrisno mengatakan kenaikan harga kacang kedelai saat ini cukup berdampak terhadap kegiatan usahanya. Kenaikan kacang kedelai ini diakui biasa terjadi pada awal tahun baru. Tetapi, baru kali ini mengalami kenaikan yang agak tingggi. ” Sementara tasih sekedik-sekedik produksi,” katanya kemarin (6/1).

Sutrisno menjelaskan untuk menutupi beban biaya produksi yang melonjak, ia terpaksa memperkecil ukuran tempe yang diproduksi ketimbang harus menaikkan harga jual tempe yang saat ini masih dikisaran antara Rp 1.000 – Rp 4.000. “Harga tetap tapi ukurannya agak kami kurangi,” ujarnya.
Dampak lain perajin tempe di wilayah Sidikan, Pandeyan, Umbulharjo itu juga terjadi pada produksi tempe untuk dijual di pasaran. Dengan harga kacang kedelai yang masih tinggi, saat ini hanya mampu memproduksi tempe sekitar 20-22 kilogram (kg) dari biasanya saat normal 25 kg.

Harga kacang kedelai yang dibeli dari penjual dengan harga Rp 8.900 per kg dari sebelumnya antara Rp 7.150 – Rp 7.450 per kg. “Kalau kesulitan dapat bahan baku enggak. Cuma barangnya ada tapi harganya tinggi,” jelasnya.
“Harapan kami segera turun saja harganya, karena harga tinggi repot juga diperajin,” tandasnya. (wia/bah)

Jogja Utama