RADAR JOGJA – Dalam pengamatan seorang P. Suparto S.Sn MA, Nyi Tjondroloekito adalah pioner sinden modern. Dosen Jurusan Pedalangan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia (FSP ISI) Jogjakarta ini menemukan Nyi Tjondroloekito sudah melakukan pembaharuan sejak 1960.

“Saya tidak tahu persis, tapi sekitar tahun 1960-an dalam darsawarsa itu terkenal. Pada zamannya, karya beliau sudah hebat sekali, karena meninggalkan pakem atau aturan konvensional,” ungkap pria 64 tahun itu memulai penjelasannya.

Ya, pada sekitar 1960-an, sinden bernama asli Turah itu bisa disebut mendobrak pakem atau aturan tetap dalam persindenan. Lantaran mengubah wangsal. Wangsal adalah kalimat tebak-tebakan dalam Bahasa Jawa. Ciri utamanya, kalimat memiliki petunjuk untuk menjawab batangan atau tebusan dari kalimat pertanyaan.

“Bu Tjondro mendobrak, dengan (syair, Red) sun pepudiyo dadi satrio utomo. Beda dengan bentuk wangsal Uler Kambang. Artinya, saya doakan, saya harapkan, jadilah kesatria utama. Kalau klasik, (seperti pada umumnya sastra Jawa, Red) sinandi atau Bahasa sandi. Uler Kambang itu maksudnya lintah, itu wangsalan,” paparnya.

Uniknya, wangsal karya Nyi Tjondroloekito berisi syair petuah. Mengajarkan nasionalisme sebagai bangsa Indonesia. Semacam ajakan, kepada putra-putri turut membangun bangsa. Tapi menggunakan Bahasa Jawa. Selain wangsal, Nyi Tjondroloekito pun disebut Suparto sangat berani dalam membuat cengkok atau susunan nada. Di mana pada zamannya, justru membuat banyak seniman klasik tidak suka.

“Cengkok Bu Tjondro dinilai merusak pakem, aturan konvensional persindenan. Saya melihat ada beberapa tokoh, sampai ekstrem. Mengatakan Bu Tjondro itu bukan sinden, tapi penyanyi. Buat orang Jawa, sinden dan penyanyi berbeda. Itu sangat ekstrem,” paparnya.

Nyi Tjondroloekito banyak mengekspresikan cengkoknya dalam Ladrang Gending Kutut Manggung Slendro Padet Manyuro. Landarang ini pun menjadi sangat terkenal. Kendati banyak seniman, yang disebut Suparto, tidak suka. Bahkan ada seorang dalang yang sengaja meninggikan dan mengeraskan suaranya tepat saat Nyi Tjondroloekito mulai bercengkok.

“Itu tahun 80-an saya menonton sendiri, ketika Bu Tjondro berekspresi, diganggu oleh dalang yang tidak suka dengan cengkoknya. Sebetulnya saya sebagai penonton mesakke (kasihan, Red). Jadi cengkoknya tidak terdengar dengan jelas. Syairnya tidak terdengar bagus,” sesalnya.

Menurut Suparto, kepiawaian Nyi Tjondroloekito dalam mengubah wangsal dan bercengkok diperoleh sejak sinden kelahiran Sinduadi, Mlati, Sleman, itu tinggal di Jakarta. Perpindahan itu terjadi sejak diperistri sentono atau kerabat Sultan Jogjakarta bernama Condrolukito. “Bu Tjondro sebagai sinden yang hidup di ibu kota, praktis menjadi ikut modern,” ungkap Pamong Pawiyatan Sindhen Murya Widya Swara, Kadipaten Pakualaman ini.

Pada akhirnya tahun 90-an, cengkok Nyi Tjondroloekito justru ditirukan pesinden muda yang cukup punya nama, seperti Rusyati dan Sunyahni. Mereka mengembangkan cengkok asli Bu Tjondroloekito menjadi lebih inovatif. “Dengan diberi aksen tertentu, sehingga Kutut Manggung sangat ngetren di dunia pedalangan,” jelas Suparto. (fat/laz)

Jogja Utama