RADAR JOGJA – Bagi kalangan milenial, nama Nyi Tjondroloekito barangkali agak asing. Padahal, sosok ini telah dijadikan nama jalan untuk menggantikan Jalan Monjali (Sleman), sejak beberapa tahun lalu. Jalan dari perempatan Monjali hingga Jalan AM Sangaji di batas kota Jogja. Bahkan patungnya juga ada di sebelah barat perempatan Monjali itu.

Nyi Tjondroloekito sendiri terkenal dengan suara emasnya. Dia merupakan sinden waranggono era Presiden Soekarno. Lahir di Pogung, Kalurahan Sinduadi, Mlati, Kabupaten Sleman, 23 April 1920. Dia memiliki nama kecil Turah. Dijuluki Tjondroloekito lantaran bakatnya yang mendapatkan apresiasi dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Selain menyanyikan gendhing-gendhing Jawa, Nyi Tjondroloekito juga memiliki kepiawaian membuat wangsalan tembang macapat. Nyi Tjondroloekito semasa mudanya pernah tinggal di Jakarta. Bahkan, menghembuskan napas terakhirnya saat di ibu kota. Dia berpulang pada November 1997, dalam usianya yang ke 77 tahun.

Bagi pecinta budaya Jawa, sosoknya terus hidup di dalam lagu-lagunya. Hal ini menyisakan kerinduan tersendiri dari penggemarnya. Bagi Ketua Komunitas Ketoprak Sleman (KKS) Sugiman Dwi Nurseto, sosok Nyi Tjondroloekito sosok yang tak tergantikan. Sejak kecil, Giman –sapaannya– mengaguminya. Meski berbeda generasi, dan belum penah bertemu langsung.
“Dari kecil saya seneng uyon-uyon, seneng beli kaset uyon uyon salah satunya suka dengan koleksi uyon-uyon itu,” ungkap Giman kepada Radar Jogja Minggu(1/1).

Giman yang kini bekerja di sebuah stasiun radio ini menuturkan, sebelum dia bekerja di RRI, dia lebih dulu bekerja di kanca tani. Yaitu, radio yang memiliki program siaran budaya Jawa. Nah, salah satu koleksi gendhing-gendhing yang dihadirkan dalam acara gending-gending Jawa, uyon-uyon itu dinyanyikan Nyi Tjondroloekito.

“Setiap Rabu siang, pasti khusus beliau. Cengkoknya itu khas. Tidak dimiliki waranggono lain,” ujarnya. Adapun gendhing yang populer yaitu kutut manggung. Gendhing ini khas dengan suara Nyi Tjondroloekito. Bahkan ada istilahnya kutut manggung cengkok Tjondroloekitan. Itu dikenal di kalangan seni. Khususnya seniman senior yang berkecimpung dalam gendhing Jawa.
Dia juga menceritakan, ketika SD sekitar tahun 1979, dia mulai mengoleksi kaset-kaset Nyi Tjondro Lukito. Selain kutut manggung, ada juga uler kambang dan palaran-palaran lainnya. “Gendhingnya Mataraman. Garapannya gagrag Jogja. Saya seneng,” tandas Giman. (mel/laz)

Jogja Utama