RADAR JOGJA – Optimisme pertumbuhan ekonomi menuju arah positif diprediksi mencuat pada 2021. Beberapa pembangunan proyek strategis dan meningkatnya kinerja konsumsi menjadi indikator tumbuhnya perekonomian DIJ di tengah pandemi Covid-19.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIJ, Hilman Tisnawan mengatakan, peningkatan pertumbuhan ekonomi dipengaruhi semakin solidnya konsumsi rumah tangga dan kembali naiknya kinerja investasi sejalan dengan beberapa pembangunan proyek strategis di tahun 2021.
”Dari sisi permintaan, peningkatan ekonomi ditopang oleh meningkatnya kinerja konsumsi dan investasi,” jelas Hilman.

Berdasarkan survei penjualan eceran, peningkatan kinerja konsumsi tercermin dari indeks penjualan eceran pada triwulan IV 2020 sampai dengan November. Ini tercatat meningkat jika dibandingkan triwulan III 2020 yaitu dari 86,95 poin menjadi 93,41 poin.

Selain itu, kinerja investasi juga diperkirakan meningkat, tercermin dari nilai perkiraan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) investasi berdasarkan Survei Kinerja Dunia Usaha (SKDU) pada triwulan IV 2020 yang tercatat -4,50 persen lebih tinggi dibandingkan triwulan III 2020 yaitu -10.08 persen.

”Sementara dari sisi lapangan usaha, peningkatan kinerja lapangan usaha terjadi pada sektor industri pengolahan dan sektor akomodasi makan minum jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya,” ujarnya.

Pun peningkatan kinerja industri pengolahan juga tercermin dari prompt manufacturing index (PMI) SKDU triwulan IV 2020 yang tercatat meningkat dari triwulan sebelumnya, yakni dari 51,43 persen menjadi 53,33 persen. Adapun sektor akomodasi makan minum juga diperkirakan meningkat seiring dengan momentum hari raya Natal dan tahun baru.

Selain itu, perkiraan SBT SKDU kegiatan usaha LU PHR pada triwulan IV 2020 tercatat 0,53 persen, lebih tinggi dibandingkan triwulan III 2020 tercatat -0,08 persen. ”Inflasi DIJ pada triwulan IV 2020 secara tahunan diperkirakan akan meningkat dibanding realisasi inflasi triwulan III 2020,” jelasnya.

Berdasarkan tracking, realisasi inflasi DIJ pada triwulan IV ini menunjukkan tren peningkatan. Secara akumulatif inflasi DIJ hingga November 2020 tercatat 0,92 persen (ytd) atau secara tahunan 1,35 persen (yoy). Capaian inflasi DIJ lebih rendah jika dibandingkan dengan pencapaian inflasi Nasional, yaitu 1,59 persen (yoy) dan berada di bawah sasaran yang ditetapkan, yakni 3,0 persen ±1 persen (yoy).

”Maka pertumbuhan ekonomi DIJ tahun 2021 diperkirakan lebih tinggi dibanding proyeksi ekonomi DIJ di perkiraan 2020,” terangnya.
Dari sisi permintaan, peningkatan ekonomi DIJ pada tahun 2021 diperkirakan dipicu oleh semakin solidnya konsumsi rumah tangga yang merupakan pangsa terbesar struktur perekonomian DIJ. Kenaikan konsumsi rumah tangga sejalan dengan potensi peningkatan daya beli masyarakat sebagai dampak dari peningkatan penghasilan, antara lain kenaikan UMR di tahun 2021.

Perkiraan perbaikan perekonomian domestik dan global ditengarai juga berdampak pada perbaikan kinerja lapangan usaha utama di DIJ, yang kemudian dapat mendorong peningkatan penghasilan dan penyerapan tenaga kerja. ”Dari sisi investasi, beberapa proyek strategis nasional lain seperti Jalan Tol Jogja Bawen dan kereta bandara menjadi penopang investasi bangunan di DIJ pada 2021,” tambahnya.

Sementara itu, dari investasi non bangunan, masifnya digitalisasi juga mendorong pelaku usaha dan pemerintah untuk melakukan investasi teknologi informasi dan komunikasi. Dari aspek global, kondisi ekonomi dunia diperkirakan mulai membaik dan diharapkan akan kembali mendorong aktivitas ekspor-impor 2021.

Dari sisi penawaran, lebih tinggi kinerja perekonomian DIJ tahun 2021 didorong oleh perbaikan kinerja sektor konstruksi, industri pengolahan, dan penyediaan akomodasi makan dan minum.

”Kembali bergeliatnya pembangunan infrastruktur di DIJ dalam rangka mendukung konektivitas pendukung bandara YIA, seperti pembangunan jalan tol. Ini juga meyebabkan lapangan usaha konstruksi kembali bergeliat,” ujarnya.
Pun industri pengolahan dan industri akomodasi makan minum diperkirakan juga akan tumbuh meningkat seiring dengan perbaikan ekonomi global. Potensi pertumbuhan aktivitas ekspor-impor dunia dan masih kuatnya permintaan domestik menjadi sentimen positif bagi industri pengolahan yang berorientasi ekspor.

Perbaikan ekonomi global dan destinasi pariwisata DIJ yang terus berbenah diharapkan menarik wisatawan mancanegara ke DIJ, baik secara jumlah wisatawan maupun jumlah belanja makanan dan akomodasi.
”Dari sisi domestik, operasional penuh YIA serta meningkatnya jumlah tanggal merah dan long weekend diperkirakan menjadi stimulus untuk meningkatkan aktivitas pariwisata di DIJ,” imbuhnya. (wia/bah)

Jogja Utama