RADAR JOGJA – Dampak buka tutup kawasan wisata di Kota Jogja pada malam tahun baru sudah terasa dampaknya. Bukan pada kasus terkonfirmasi positif Covid-19. Tapi pada berkurangnya jumlah sampah yang dihasilkan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja Sugeng Darmanto mengatakan, malam pergantian tahun pada situasi pandemi Covid-19 ini sangat meringankan para petugas. Pasalnya jalur sumbu filosofis potensi yang dijadikan lokasi perayaan yakni dari Tugu Pal Putih, Malioboro, hingga kawasan Keraton (Gumaton) tidak ada kenaikan volume sampah yang signifikan. “Pembatasan karena adanya Covid-19, berdampak tidak ada lonjakan sampah,” katanya Jumat (1/1).

Tumpukan sampah usai malam pergantian tahun kemarin malam (31/12) tidak signifikan sekitar lima truk sampah. Dibandingkan tahun lalu, tumpukan sampah bisa mencapai 15-20 truk sampah di jalur Tugu Pal Putih hingga Alun-alun Selatan. Belum lagi harus berjibaku menambah pelayanan bantuan kontainer sampah yang ditempatkan di beberapa titik untuk depo pembuangan sementara. “Tahun ini, perhitungan tidak sampai lima truk. Karena di-sweeping pakai roda tiga sebagain rampung,” jelasnya.

Sebanyak 50 petugas DLH yang dikerahkan pun bisa pulang lebih cepat. Tidak seperti penugasan pada tahun-tahun sebelumnya. “Di Alun-alun utara saja dengan satu compactor masih kosong separuh. Depo-depo yang mewadahi sampah-sampah dari warga dan pertokoan juga tidak ada penumpukan, pukul 03.00 dini hari sudah kosong,” jelasnya.

Terpisah, Salah satu yang dituakan pada Forum Lintas Komunitas Malioboro (FLKM) Suparno Sito menyebut, setiap malam pergantian tahun sudah menjadi rutinitas rutin bergerak membersihkan sampah di kawasan obyek wisata itu setiap pergantian tahun. Namun, tahun ini dinilai tumpukan sampah sangat berkurang berbeda dengan tahun lalu. “Antara pukul 00.30 sudah bergerak sampai sebelum subuh kami targetkan bersih. Tapi untuk malam tahun baru tadi malam (kemarin malam) sampahnya sedikit sekali,” katanya.

Menurut dia, sesuai Intruksi Gubernur komunitas malioboro khususnya pedagang lesehan pun menutup operasional usahanya tepat waktu yakni pukul 22.00. Itu saja, sampai menolak pengunjung yang akan melakukan order makanan. “Kami last order itu pukul 21.30, kami masih melayani konsumen yang sudah terlanjur masuk atau memesan makanan,” tambahnya.

Dibandingkan tahun lalu, para PKL kuliner menutup usahanya bisa sampai pukul 02.00 pada momentum malam pergantian tahun. Sebab, momentum tersebut menjadi kesempatan mereka untuk meningkatkan pendapatan ekonominya. Peningkatan pendapatan hanya 15 persen dibandingkan dengan malam pergantian tahun lalu. “Kalau dibanding hari biasa lumayan ada peningkatan meski enggak banyak ya. Tapi ini harus kami taati demi kebaikan bersama,” imbuhnya. (wia/pra)

Jogja Utama