RADAR JOGJA – Selama libur Natal, tingkat okupansi hotel di Sleman hanya mencapai 30-40 persen. Jumlah tersebut cukup menurun dibandingkan dengan periode yang sama di tahun lalu hingga 55 persen.

Ketua PHRI Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sleman Joko Paromo menjelaskan, berkurangnya jumlah tamu masih dikarenakan situasi pandemi Covid-19. Selain itu, adanya kebijakan rapid test antigen turut membingungkan calon tamu.

Menurut Joko, pada libur tahun baru juga belum ada peningkatan dari permintaan kamar. Mengingat, tren yang ada kamar hotel akan melonjak pesanannya saat dua hari menjelang pergantian tahun. ”Aaat ini untuk bisa mencari kamar cenderung lebih gampang,” ungkap Joko Rabu (30/12).

Meskipun masih sepi pengunjung, Joko memastikan pihak hotel tetap memberlakuan protokol kesehatan untuk mencegah Covid-19 di area hotel. Selain itu, pihak hotel juga tidak menyelenggarakan dan melarang adanya kegiatan yang menimbulkan kerumunan. ”Yang berkerumun tetap tidak di izinkan, dan pihak hotel membantu kontrol saling mengingatkan,” lanjutnya.

Pandemi Covid-19 saat libur Natal, juga mengakibatkan wisatawan di Tebing Breksi menurun drastis. Ketua Pengelola Tebing Breksi Kholiq Widiyanto mengaku jika sebelumnya, jumlah kunjungan libu Natal tidak mencapai seribu orang. Pengujung yang datang, juga didominasi oleh pengunjung lokal.

Sedangkan tahun lalu, kunjungan saat Natal bisa mencapai 6 ribu orang setiap harinya. “Sedangkan pada tahun ini hanya ada 800 orang sehari,” kata Kholiq.
Jumlah tersebut, kata Kholiq, jelas tidak sesuai dengan prediksi sebelumnya. Yang mana, pihak pengeola sudah menambah puluhan personel untuk keamanan, ticketing, dan petugas untuk mengingatkan pengunjung saat melanggar protokol kesehatan sebagai langkah antisipasi jika terjadi lonjakan pengunjung.

Selain itu, arus lalu lintas juga akan diatur menjadi satu jalur. Hal ini dimaksudkan agar para pengunjung bisa menyebar di beberapa lokasi dan tidak hanya berada di satu titik. (eno/bah)

Jogja Utama