RADAR JOGJA – Gereja Katolik Hati Kudus Tuhan Yesus (HKTY) Ganjuran tahun ini melangsungkan misa Natal dengan protokol kesehatan (prokes) ketat. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, peserta yang diperbolehkan hanya yang berasal dari wilayah paroki saja. Maka, gereja yang berdiri sejak 1924 ini hanya menerima 3.300 jemaat saja. Padahal biasanya bisa melayani hingga 6.000 jemaat. Ini pun masih dibagi dalam tujuh sesi, yang biasanya hanya lima sesi.
Kepala Paroki Gereja Ganjuran Romo FX Krisno Handoyo menjelaskan, gereja menaungi enam kapanewon di sekitarnya. Jemaatnya kurang lebih 34,59 persen penduduk Bantul. Pada enam kecamatan itu, warga yang terkonfirmasi Covid-19 ada sekitar 50 orang. “Kalau dipersentase, dari 34,59 persen warga, yang terkonfirmasi Covid-19 ada 10,2 persen. Sehingga kami melaksanakan peribadatan offline sejak pertengahan Juli. Tapi kami juga tetap live streaming,” papar Romo Kris saat ditemui di Gereja Ganjuran.
Penerapan prokes saat ibadah offline, disebut Romo Kris, penting. Seperti memakai masker secara benar, menjaga jarak, menghindari kerumunan, mencuci tangan, dan ditopang perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). “Selain itu kami katakan untuk jangan lupa bahagia. Saya selalu menggunakan rumusan, salam sehat dan berkah dalem,” sebutnya.
Penerapan prokes dalam ibadah offline juga akan dilakukan dalam misa Natal yang dilangsungkan mulai kemarin di Gejera Ganjuran. Jemaat yang diperkenankan mengikuti peribadatan Natal adalah umat yang ada di wilayah paroki saja, dan terdaftar.
“Jadi tidak semua kami memberi kemungkinan bagi pemudik, tapi dengan syarat menyertakan surat pernyataan negatif Covid-19 berdasar rapid test, rapid test antigen, atau swab untuk bisa mengikuti ekaristi. Sudah ada sekitar 100 pemudik dari 3.300 jemaat yang mendaftar,” ungkapnya.
Sementara untuk jemaat lain diimbau untuk mengikuti misa Natal secara live streaming. Gereja Ganjuran sendiri membagi 3.300 jemaat menjadi tujuh sesi misa. Tiap jemaat yang mendaftar, mereka langsung mendapat jadwal pelaksanaan misa.
“Per sesi biasanya bisa 2,5 jam. Maka kami tidak menambah tenda. Tapi menggunakan ruang, 30 persen dari kapasitas biasanya. Pendaftar langsung diberikan jadwal, hari dan jamnya. Tiap sesi maksimal 500. Tapi tanpa pakai ID card tidak boleh mengikuti. Dibuat sederhana, pendek, di samping umat tidak banyak,” urai Romo Kris.
Di Jogja, sterilisasi gereja dilakukan jajaran Polda DIJ kemarin (24/12). Salah satu gereja yang dicek keamanannya adalah Gereja Katolik Santo Antonius Padua, Kotabaru Jogja. Pengecekan dipimpin langsung Kapolsek Gondokusuman Kompol Bonifasius Slamet.
Sterilisasi itu dilakukan bersama tim Gegana Jibom Sat Brimob Polda DIJ. “Hasil pengecekan tidak ditemukan barang-barang yang membahayakan,” kata Boni kepada awak media. Ia mengatakan, pihaknya akan menjaga ketat wilayah gereja setelah sterilisasi dilakukan.
Dikatakan, pengamanan mulai dari pintu masuk, di dalam gereja hingga di sekitar gereja. Termasuk saat misa berlangsung, juga telah disiapkan personel untuk melakukan pengamanan secara ketat. “Sudah koordinasi dengan Linmas, Banser dan personel gabungan dari TNI dan Polri untuk pengamanan,” tegas Boni.
Gereja Katolik Santo Antonius Padua, Kotabaru, sendiri akan melaksanakan peribadatan sebanyak enam kali. Mulai dari ibadah malam Natal sebanyak dua kali, dan saat perayaan Natal empat kali.
Sementara itu PS Panit Tim Gegana Jibom Polda DIJ Aiptu Hanang mengatakan, sterilisasi gereja di Kota Jogja ada tiga lokasi berbeda. Selain di Kotabaru, sterilisasi juga dilakukan di Gereja Katolik Hati Kudus Tuhan Yesus Pugeran, dan Gereja Katolik Santo Albertus Agung, Jetis. “Sudah kami lakukan pengecekan, hasilnya aman dari benda-benda membahayakan,” jelas Hanang. (fat/kur/laz)

Jogja Utama