RADAR JOGJA – Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Jogja diganjar predikat Wilayah Birokrasi Bersih Melayani (WBBM) oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB) lewat virtual Senin (21/12). Penerimaan ini sebagai bentuk untuk memacu melakukan inovasi pelayanan publik kepada masyarakat.

Kepala Kantor Kemenag Kota Jogja Nur Abadi mengatakan, upaya untuk mendapatkan predikat WBBM telah dilakukan sejak 2006 hingga tahun ini berhasil menerima predikat tersebut. “Alhamdulillah, ini kami dapatkan karena integritas yang tinggi dan pelayanan kita yang baik,” katanya di sela acara penganugerahan secara virtual via zoom di Aula Kantor Kemenag Kota Jogja.
Nur Abadi menjelaskan untuk mendapatkan predikat tersebut tidak mudah.

Selama itu, telah melakukan berbagai hal yaitu meningkatkan kolaborasi dengan pemerintah kota dalam memberikan layanan kepada masyarakat. Di antaranya memberikan layanan kepada masyarakat dengan SMART yakni senyum, mudah, amanah, ramah dan transparan. “Predikat ini tidak selamanya, tapi setiap tahun akan dievaluasi oleh tim penilai internal dari pusat yang tentu menjari tantangan bagi kami semua bagaimana untuk merawat dan mempertahankannya,” jelasnya.

Maka, komitemen yang akan dibangun setelah mendapat predikat tersebut. Pihaknya akan tetap mempertahankan predikat WBBM dengan selalu menjaga integritas dan berinovasi dalam pelayanan publik. Sehingga, dalam jangka pendek ini akan menyempurbakan inovasi-inovasi yang sudah dimilikinya yakni dengan layanan berbasi teknologi informasi. Ini sebagai bentuk tanggungjawab pelayanan publik ke masyarakat. “Terutama di layanan haji dan umroh serta layanan di KUA akan kami kembangkan terus berbasis IT,” terangnya yang menyebut sebelumnya juga dianugerahi predikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK).

Sementara, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama DIJ, Edhi Gunawan mengapresiasi jajarannya berhasil membangun predikat zona integritas paling tinggi yaitu WBBM. “Alhamdulillah ini bisa kita tunjukkan dan perjuangan yang luar biasa untuk kota Jogja,” katanya.

Menurut dia, status predikat WBBM hanya bersifat sementara yang tentu harus bisa memacu dan memicu komitmen terkait dengan pencegahan korupsi dan gratifikasi. Di sisi lain juga peningkatan terhadap pelayanan kepada masyarakat. “Kalau kita betul-betul bisa mengawal, merawat atau menjaga status yang kita peroleh ini. Insya allah kita sudah memiliki modal kemampuan dan kompetisi. Saya yakin optimis kota Jogja bisa,” jelasnya.

Hal ini juga tidak terlepas dari para agen perubahan dalam merawat predikat dengan terus melakukan inovasi dan terobosan. Inovasi atau terobosan yang tidak harus dengan hal baru melainkan hal yang sudah ada dan dikreasikan. Sehingga ada nilai kebaharuan yang berefek layanan publik menjadi lebih efektif dan efisien. “Tingkatkan kualitas dan kuantitasnya untuk merawat predikat yang sudah diperoleh. Semoga yang diperoleh ini bisa menginspirasi,” imbuhnya. (wia/pra)

Jogja Utama