RADAR JOGJA – Beberapa produk yang dijual di toko swalayan di Kota Jogja ditemuai sudah kadaluarsa dan dalam kondisi rusak. Pengelola toko diminta segera menarik produk tersebut.

Dalam rangka memberikan rasa keamanan untuk mengonsumsi produk kebutuhan pokok menjelang hari raya Natal dan Tahun Baru (Nataru). Dinas Perindustrian Perdagangan (Disperindag) Kota Jogja sidak ke beberapa toko dan swalayan untuk pemantauan peredaran barang berbahaya.

Plt Kepala Seksi Bimbingan Usaha Perdagangan, Disperindag Kota Jogja Joko Prihantoko mengatakan, kegiatan monitoring pemantauan peredaran barang berbahaya dilakukan secara rutin tahunan menjelang Nataru. Pemantauan ini untuk mengawasi barang yang dikonsumsi masyarakat memiliki kelayakan jual atau tidak. “Kami lakukan ini rutin setiap tahun untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat menjelang natal dan tahun baru,” katanya di sela monitoring di salah satu Toko Swalayan di Jalan Glagahsari Senin (21/12).

Dari sampling enam toko yang dikunjungi itu, kebanyakan produk ditemui memiliki kemasan yang rusak dan tidak signifikan untuk produk yang sudah kadaluarsa namun masih tetap dijual. Terkait temuan ini, tidak ada sanksi yang memberatkan manajemen toko atau swalayan. Hanya, Disperindag melakukan teguran dan pembinaan. “Pada saat itu juga produk yang ditemukan kemasan rusak maupun expired kita tarik. Pihak manajemen harus menarik tidak boleh dijual,” jelasnya.

Ada berbagai kemungkinan produk dengan dua unsur tadi tetap masih dijual. Selain kemungkinan manajemen memanfaatkan situasi Nataru maupun terlepas kontrol dari pihak toko atau swalayan. “Mungkin keteledoran di luar kontrol mereka. Dengan adanya ini mereka kita harapkan lebih teliti lagi agar tidak merugikan masyarakat,” terangnya. “Tidak menutup kemungkinan hal serupa ada di toko-toko lain. Tapi saya kira masyarakat sekarang sudah kritis ketika membeli produk,” sambungnya.

Menurut dia, kebutuhan konsumsi masyarakat pada Nataru tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Ini karena masyarakat lebih cenderung memprioritaskan kebutuhan dari sisi kesehatan dimasa pandemi Covid-19. Sehingga hampir kurang lebih delapan bulan masa pandemi ini banyak produk pangan yang tidak berputar atau hanya tersimpan di toko-toko tersebut. “Lebih utama masyarakat sekarang lebih utamakan untuk cadangan kesehatan,” tambahnya.

Selain itu, monitoring yang dilakukan juga tidak kalah pentingnya ialah dalam masa pandemi ini juga melakukan pantauan terkait dengan penerapan protokol kesehatan yang standar dilakukan di setiap toko atau swalayan. Seperti menyediakan tempat cuci tangan atau minimal hand sanitizer. Pengecekan suhu tubuh, pengaturan jaga jarak di kasir termasuk karyawan harus memakai masker. “Sejauh ini semua mematuhi prokes,” imbuhnya. (wia/pra)

Jogja Utama