RADAR JOGJA – Dinas Perhubungan Kota Jogja tidak lagi melakukan rekayasa lalu lintas selain manajemen lingkar Malioboro yang telah diberlakukan permanen saat libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Sistem giratori lalu lintas ini diklaim mampu mengurangi kepadatan lalu lintas.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Jogja Agus Arif Nugroho mengatakan, saat libur Nataru nanti diprediksi tidak terjadi peningkatan kepadatan lalu lintas. Selain karena masih situasi pandemi Covid-19, Dishub juga telah memberlakukan sistem giratori di jalanan pusat Kota Jogja.

“Tahun lalu tanggal segini kita sudah standby di Amongrogo. Waktu itu hampir 90 persen kepadatan dari bus wisata anak-anak sekolah,” Agus Jumat (18/12).
Pengalaman tahun-tahun sebelumnya pasar wisata Jogja dipenuhi hanya oleh rombongan study tour anak-anak sekolah. “Apalagi ini masih ada sekolah di rumah, nggak mungkin ada study tour. Jadi tetap berkurang kepadatan lalulintasnya,” ujarnya.

Dibanding tahun 2019 lalu, kepadatan lalu lintas pada tahun ini diprediksi hanya 60 persen. Terlebih sudah ada pemberlakuan sistem giratori dengan manajemen lalu lintas lingkar Malioboro. “Sekarang malam minggu di Malioboro normal. Karena ada one way dan bundaran,” jelasnya.

Dari sistem giratori ini berdampak baik. Terbukti hampir delapan simpang yang diamati Dishub tidak lagi terjadi penumpukan kendaraan, sekalipun setiap akhir pekan. Delapan simpang itu yakni simpang Gondomanan, Nol Kilometer, Kleringan, Jalan Abu Bakar Ali, Pasar Kembang, simpang Jlagran, hingga Jalan Suprapto.

Menurutnya, selama ini persoalan menahun kepadatan lalu lintas di Kota Jogja hanya pada satu titik yaitu seputaran Malioboro. Di mana setiap kali liburan selalu terjadi kepadatan karena kapasitas jalan yang terbatas sehingga mengakibatkan peningkatan kepadatan hingga terjadi konflik lalu lintas.
“Ada yang mau belok kanan, nyeberang mau lurus, akhirnya terhenti. Satu mobil bisa sampai 20 detik kali berapa panjangnya. Padahal rata-rata lampu traffict kita hanya 30 detik,” tambahnya.

Prediksi puncak kepadatan akan terjadi pada 24 Desember atau saat ibadah malam Natal. “Nanti 25 Desember pagi juga ada potensi padat, tapi nggak banyak,” tambahnya. (wia/laz)

Jogja Utama