RADAR JOGJA – Sebanyak 619 pedagang di barak sementara Pasar Prawirotaman sudah mulai boyongan ke pasar baru. Banyak dari mereka tengah sibuk dan hiruk pikuk menata dagannya di pasar baru maupun mengemas barang-barang di barak sementara.

Pantauan Radar Jogja, tidak sedikit pedagang meninggalkan barang-barang di barak sementara. Seperti lemari, meja, maupun fasilitas lain penunjang untuk berjualan. Mereka, diberi waktu hingga 31 Desember mendatang untuk membersihkan barang yang masih tersisa. Dan barak sementara dikosongkan.

“Kami sudah mulai pindahan ke pasar utara. Barang-barang ini kan nggak boleh dibawa, jadi ini kita kemas untuk dibawa pulang,” kata Ketua Paguyuban Pedagang Prawirotaman, Paryanto disela mengemasi barang-barang di barak sementara.

Paryanto mengatakan pedagang sudah mulai berjualan perdana di Pasar Prawirotaman yang baru itu sejak Jumat (16/12). Boyongan dagangan sudah dilakukan dengan waktu yang bervariasi. Ada yang mulai dicicil sejak Minggu, Senin, Selasa, dan kemarin. “Sudah mulai berjualan di sana hari ini Rabu legi. Rabu maknanya Allah menciptakan nur atau cahayanya dihari rabu, legi mitos jawanya itu kan manis,” ujarnya.

Paryanto menjelaskan makna dipilih hari tersebut sebagai hari perdana untuk berjualan karena agar selama berjualan selalu lancar dan berbuah manis yaitu kemungkinan laku atau larisnya tinggi. Selama satu hari sudah mulai berjualan di pasar dengan bangunan mengusung tema green building itu belum dirasakan perbedaan yang signifikan. Selain karena masih hari pertama, pedagang juga masih berbenah maupun menata-nata dagangannya. “Pedagang mayoritas masih pada bingung mau naruh daganganya, mau melayani dagangannya. Tapi yang jelas pembeli masih bingung cari pedagang langganannya,” ujarnya.

Selama satu hari berjualan, dikatakan belum ada dampak perbedaan yang signifikan. Hanya, pengunjung memang ramai memasuki pasar. Namun, belum banyak pengunjung bertransaksi di pasar dengan bangunan mengusung tema green building itu. “Ramainya ramai memang banyak orang, sebagian penasaran pengen lihat pasar yang baru seperti apa. Karena pengunjung umum baru bisa masuk hari ini tadi,” jelasnya.

Pun yang juga pedagang ayam potong, kampung, dan bebek itu juga belum berani membawa stok dagangan seperti hari-hari biasa. Sebab mengantisipasi kemungkinan tidak laris. Stok yang dibawa 60 kilogram ayam dari biasanya satu kuintal. “Kalau untuk awal-awal stoknya kita sediakan sedikit dulu tidak berani bawa banyak-banyak. Tapi alhamdulillah bisa habis karena langganan borong banyak,” terangnya.

Selain itu, transaksi juga masih dilakukan secara konvensional atau belum menyesuaikan pasar berkonsep transaksi digital. Ini dikarenakan masih butuh edukasi dan beradaptasi dari konvensional ke modern. Dicontohkan, dari gawenya juga yang belum mendukung untuk melakukan transaksi atau pembayaran non tunai. “Seperti handphone saya juga belum bisa mendukung. Tapi tadi ada yang bimbing dari BPD DIY. Jadi transaksi untuk hari ini tadi masih menggunakan uang cash,” sambungnya.

Terpisah, Kepala Bidang Penataan, Pengembangan, dan Pendapatan Pasar (P3P) Disperindag Kota Jogja, Gunawan Nugroho Hutomo mengatakan, setelah barang-barang di barak penampungan sementara terkosongkan. Maka lokasi barak sementara akan ditutup dan aset-aset dikembalikan ke bidang aset Pemerintah Kota Jogja.

Akan tetapi, untuk merubah mindset para pedagang dari berbagai kalangan usia itu dibutuhkan proses. Kendalanya ialah gadget. Menurutnya, ada sebagian kalangan pedagang yang belum bisa menyesuaikan dengan gawenya. Sebab, tidak sedikit dari gadget yang dimiliki pedagang tidak suport dengan aplikasi QRIS. “Ada teman pedagang hapenya basicnya sudah smartphone tapi seri lama. Aplikasi QRIS dari BPD DIY belum bisa support,” bebernya.

Meski demikian, mayoritas pedagang siap untuk bertransaksi non tunai melalui QRIS. Pun setiap dasaran los atau kios pedagang sudah disediakan barcode QRIS. “Jadi prinsipnya adalah ready teman-teman pedagang sudah bisa menerima pembayaran non tunai dari masyarakat,” tambahnya. (wia/pra)

Jogja Utama