RADAR JOGJA – Jayengtilam juga merupakan nama dari tokoh Panji. Yakni, Panji Jayengtilam. Nama Jayengtilam kemudian diadopsi sebagai bagian dari tajuk pameran Annual Museum Exhibition (AMEX). Sebab, berkaitan dengan kesejarahan cerita Panji.

“Pada mulanya, cerita Panji sebagai mahakarya sastra dari Nusantara, terlebih dahulu disebarkan melalui tradisi lisan. Barulah setelah bertransformasi sebagai identitas lokal Daha dan Jenggala, cerita Panji kemudian dipahatkan pada relief-relief candi. Dari sisi inilah kolaborasi ide, sejarah, dan kekayaan Nusantara diboyong dalam pameran,” papar Fajar Wijanarko, salah satu kurator pameran.

Di samping itu, lanjut Fajar, kehidupan tradisi lisan di masyarakat masih terus berkembang hingga saat ini. Bahkan, pewarisan budaya lisan sebagai identitas lokal masih terus dilakukan.

KAYA MAKNA: Pameran dipusatkan di Gedung Pameran Temporer Museum Sonobudoyo.(ISTIMEWA)

Mitos, gugon tuhon, legenda urban, atau sekadar cerita-cerita setempat menjadi potret nyata dari kelestarian tradisi lisan. “Fenomena inilah yang dijadikan pendorong ide kreatif museum untuk menggelar pameran di akhir tahun,” ujarnya.

Pameran digelar di Gedung Pameran Temporer Museum Sonobudoyo di Jl. Trikora/Pangurakan No. 4 Yogyakarta, atau sisi selatan Titik Nol Km.
Pameran digelar di Gedung Pameran Temporer Museum Sonobudoyo di Jl Trikora/Pangurakan No 4 Yogyakarta, sisi selatan Titik Nol Kilometer Yogyakarta. Pameran Jayengtilam menghadirkan 7 ruang utama dengan berbagai koleksi dan penceritaan serta satu ruang interaksi yang akan memanjakan pengunjung mendengarkan tradisi tutur. Setiap ruangan berdiri sebagai penceritaan yang mandiri. Pengunjung akan dimanjakan dengan narasi yang dibangun dalam pameran ini.

“Cerita tentang Wayang Beber Panji, Wayang Setanan, Astabrata, Kanjeng Ratu Kidul, hingga topeng dan pasren mewarnai setiap sudut ruang pamer,” katanya.
Masyarakat yang menyaksikan tidak dipungut biaya. Pengunjung dapat menikmati keindahan karya seni berupa patung, kain batik, topeng, dan lain sebagainya. Klimaks pada pameran ini yakni koleksi wayang beber yang dapat membuat pengunjung menyelami kisah Panji. Panji adalah mahasastra Nusantara yang lahir pada masa Kerajaan Kediri abad ke-11. (tor/amd)

Jogja Utama