RADAR JOGJA – Kabid Pengembangan dan Pemeliharaan Sejarah, Bahasa Sastra, dan Museum Dinas Kebudayaan DIY Rully Andriadi mengatakan, seni pertunjukan tradisi kerakyatan kethoprak merupakan salah satu identitas budaya DIY sebagai sumber orientasi estetika seni kethoprak. Namun, saat ini di DIY sangat minim pementasan seni pertunjukan tradisi kerakyatan kethoprak berkualitas yang komprehensif dan terselenggara secara reguler.

“Pementasan kethoprak berserak dan tersebar, bersifat parsial, dan insidental sporadik, dengan sedikit saja upaya peningkatan kualitas wawasan, pengetahuan, keahlian, dan keterampilan para pelakunya,” katanya.
Salah satu sumber kelemahan kethoprak ada pada bagian hulu kreativitas. Yaitu, makin terbatasnya naskah lakon dan penulis naskah lakon. Hal ini karena lakon adalah sumber baku pementasan.


SUTRADARA MUDA: Pementasan uji pentas naskah pemenang melibatkan kader sutradara dari pelaku muda kethoprak.(ISTIMEWA)

Kaderisasi penulis naskah lakon, ketersediaan naskah lakon baru, dan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia pelaku kethoprak dalam mengolah lakon menjadi pementasan berkualitas, dapat menjadi langkah bersama terintegrasi.

Selain itu, naskah lakon kethoprak yang ada belum terdokumentasi dengan baik. Sementara itu, kompetisi naskah lakon baru jarang diselenggarakan.
“Oleh karena itu, upaya menuju pertunjukan seni kethoprak berkualitas perlu dilakukan melalui upaya kreatif yang integratif, terstruktur, sistematis, terbuka, partisipatif, sehingga menjadi gerakan budaya yang terukur,” jelasnya. (tor/amd)

Jogja Utama