RADAR JOGJA – Kurangnya perhatian khusus terhadap upaya pemenuhan gizi bagi anak dan balita menyusul pagebluk korona, dikhawatirkan akan berkontribusi pada meningkatnya angka stunting. Pemkot Jogja memanfaatkan CSR untuk bantu mencegah permasalahan stunting.

Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi (HP) mengatakan, di masa pandemi Covid-19 telah menggerus ekonomi secara langsung di masyarakat. Ketika seluruh usaha juga mengalami perlambatan otomatis tingkat kesejahteraan dan pendapatan ikut terdampak alami penurunan. “Salah satu yang dikhawatirkan, kami tidak ingin stunting di Kota Jogja meningkat diakibatkan karena persoalan pandemi,” katanya disela Kick Off Program 1.000 pelangi Goes to Community CSR untuk penanggulangan stunting di Ruang Bima Kamis (10/12).

Meskipun, diakui HP penurunan tingkat pendapatan yang dialami masyarakat ini tidak berakibat pada penurunan tingkat kesehatan. Terutama yang lebih penting penurunan terhadap kesehatan ibu hamil, balita, baduta dan juga kesehatan seluruh anak-anak di Kota Jogja. “Menjadi kewajiban kita walaupun jumlah angka stunting rendah di bawah rata-rata nasional. Tapi selama itu ada (stunting) menjadi problem,” ujarnya.

Data Dinas Kesehatan Kota Jogja 2019 permasalahan stunting masih terbilang cukup tinggi yaitu 11,3 persen dari jumlah anak di Kota Jogja. Data pemantauan status gizi di bulan Agustus 2020 menunjukkan dari 2.270 balita yang ditimbang, terdapat 12,56 persen balita dengan status pendek dan sangat pendek di Kecamatan Umbulharjo. Angka ini menunjukkan status gizi balita di kota Jogja jauh lebih baik dibandingkan dengan status gizi balita secara nasional. “Jumlah balita stunting nasional ada pada angka 27,7 persen. Tapi namanya stunting harusnya tidak ada,” jelasnya.

Sesuai komitmen Pemkot Jogja untuk mencegah permasalahan stunting. Maka pencegahan awal dimulai dengan perbaikan asupan gizi remaja putri, perbaikan kesehatan lingkungan ibu hamil dan balita, serta perbaikan gizi ibu hamil dan balita. Terutama pada 1.000 hari di awal kehidupan. Sebab periode 1.000 hari pertama kehidupan manusia adalah periode emas dan kritis. Hal semacam ini harus diantisipasi agar asupan gizi ketika masuk kehidupan rumah tangga bisa tercukupi. “Jangan sampai asupan gizi yang harus dipenuhi untuk melahirkan anak-anak yang sehat itu telambat karena kita tidak tahu titik-titik kritis atau periode emas yang harus diberikan perhatian oleh setiap orang ketika menapaki hari-harinya,” terangnya.

Menurut dia, sebagian dari bayi yang statusnya stunting juga terjadi di kelompok menengah ke atas. Tidak hanya kelompok menengah ke bawah. Ini disebabkan karena menengah ke atas mengurangi asupan gizinya karena program diet. Sedangkan menengah ke bawah karena memang tidak tercukupi asupan gizi. “Maka pendidikan tentang pemenuhan gizi yang sehat meskipun harus memenugi kaidah-kaidah diet juga penting kita hadirkan kepada remaja-remaja putri,” tambahnya.

Diharapkan dengan program 1.000 pelangi goes fo community yang dilakukan oleh CSR mampu menghadapi kondisi stunting yang ada di kota Jogja. Ini manjadi bagian dari upaya dan implementasi Gandeng Gendong dalam rangka membangun generasi emas dimasa mendatang.

Perwakilan Danone Specialized Nutrition Indonesia, Delta Deritawan mengatakan program 1.000 pelangi ini akan dilaksanakan di tiga wilayah kelurahan di kecamatan Umbulharjo. Diantaranya kelurahan Pandeyan, Warungboto, dan Semaki. “Ini program pilot kita ada di tiga wilayah. Program akan menyangkut masalah workshop, pendampingan maupun monitoring mengenai nutrisi baduta dan balita,” katanya.

Program tersebut akan menjangkau 188 orang penerima manfaat terdiri dari 117 bayi di bawah 2 tahun dan 71 ibu-ibu hamil. Dan program akan dilaksanakan sampai dengan anak usia dua tahun. (wia/pra)

Jogja Utama