RADAR JOGJA – Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY Sumadi menjelaskan, beberapa agenda acara dan kajian telah dilaksanakan Kundha Kabudayan DIY terkait upaya pemeliharaan dan pengembangan Aksara Jawa. Ada sejumlah kegiatan yang sudah diselenggarakan.

Yakni, Sarasehan Majalah Sempulur dengan Topik Aksara Jawa, Focus Group Discussion (FGD) I-IV Kongres Aksara Jawa, dan Sosialisasi Pelaksanaan Kongres Aksara Jawa I dilaksanakan di Provinsi Bali dan Jawa Tengah.

Selain itu, Workshop Dluwang, Workshop Digitalisasi dan Pameran Manuskrip, Pra Kongres Aksara Jawa, Finalisasi Tim Perumus Kongres Aksara Jawa I Yogyakarta, Nyerat Dluwang Masal, dan dukungan penuh ke Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) dalam hal pengajuan enskripsi Aksara Jawa ke Internet Corporation for Assigned Names and Numbers (ICANN).

Selain itu, Pahargyan Digitalisasi Aksara Jawa ini sebagai penanda kebangkitan Aksara Jawa. Pada saat ini telah melahirkan produk-produk hasil Digitalisasi Aksara Jawa, di antaranya teks Ajisaka.

“Kegiatan ini dimaksud untuk mengkaji beberapa varian teks Ajisaka yang ada, kegiatan yang dilakukan adalah dengan melakukan tedhakan (suntingan) dengan menggunakan font aksara Jawa yang diambil dan dikembangkan dari teks Ajisaka bersangkutan, dan ditransliterasi latin menggunakan JGST (Javanese General System of Transliteration),” jelasnya.

Selanjutnya adalah Tata Tulis Aksara Jawa. Merupakan hasil rumusan Pra Kongres Aksara Jawa I. Dilakukan kajian terkait pedoman tata tulis aksara Jawa baru. “Dalam hal tersebut penggunaanya bisa mengakomodasi isu-isu terkait standarisasi aksara Jawa versi Unicode,” paparnya.

Kemudian, berdasarkan kajian Unicode aksara Jawa, perlu dipersiapkan secara khusus sistem transliterasi aksara Jawa ke Latin yang taat asas. Maka, disiapkanlah sebuah sistem transliterasi yang disebut dengan JGST (Javanese General System of Transliteration).

Disbud DIY juga melakukan kajian mengenai Fonta Aksara Jawa Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta. Kajian fonta ini digunakan untuk penulisan digital. Menghasilkan dua fonta Unicode Nyk Ngayogyan dan Nyk Ngayogyan Jejeg.

“Fonta ini adalah fonta resmi yang digunakan oleh Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta dalam tata naskah kedinasan,” paparnya.

Fonta dibuat mengacu pada bentuk typeface Aksara Jawa yang digunakan dalam naskah Javaansch Nederduitsh Handwoordenboek yang disusun oleh Johann Friedrich Carl Gericke dan Taco Roorda. Diterbitkan oleh Johannes Muller di Amsterdam, Belanda, pada tahun 1874.

Berikutnya adalah penerbitan Majalah Tabloid Remaja Beraksara Jawa Jawacana yang diterbitkan dengan menggunakan paugeran Kongres Bahasa Jawa (Keputusan Bersama 3 Gubernur yakni DIY, Jateng, dan Jatim. Langkah ini untuk mengisi kekosongan literasi bacaan aksara Jawa yang menggunakan paugeran KBJ (Kamus Bahasa Jawa).

“Terkahir adalah Kompetisi Sengkalan. Dilaksanakan sebagai upaya pelestarian tradisi pembuatan sengkalan kepada masyarakat di DIY,” tuturnya. (tor/amd)

Jogja Utama