RADAR JOGJA – Akibat pemangkasan cuti bersama akhir tahun berdampak pula pada transaksi ekonomi yang dilakukan di kawasan Malioboro. Diprediksi omzet akan menurun hingga 25 persen.

Salah satu yang dituakan pada Forum Lintas Komunitas Malioboro Suparno Sito mengatakan, pemangkasan cuti bersama akhir tahun yakni 28, 29, 30 Desember ini tentu akan mengurangi kunjungan. Padahal long weekend atau libur panjang akhir tahun ini bisa membantu menjadi momentum untuk memulihkan ekonomi di tengah pandemi. “Harusnya semuanya yang pegawai atau individu dan keluarga berlibur. Tapi kerena ada perubahan (cuti bersama) jadi sedikit ada perubahan terkait kunjungan,” katanya kepada Radar Jogja Minggu (6/12).

Sito menjelaskan pengunjung diprediksi berkurang 50 persen dibandingkan dengan adanya wacana cuti bersama tersebut. Pun akhir tahun 2020 ini omset yang didapat hanya sekitar 20-25 persen daripada tahun lalu. “Kami enggak berani stok banyak-banyak karena antisipasi kerugian yang terjadi,” ujarnya.

Dengan pertimbangan ini, teman-teman PKL baik kuliner maupun sovenir, aksesoris, cinderamata, batik dan lain-lain membatasi stok dagangan yang dijual. Dicontohkan, PKL yang menjual produk batik maupun souvenir sebelum Desember ini biasanya sudah stok barang mengantisipasi kehabisan stok dari distributor. Namun, saat ini hal tersebut tidak dilakukannya. “Untuk sat ini stok tidak begitu banyak, hanya mengantisipasi bilamana nanti kehabisan barang dan terjadi kemacetan. Akhirnya bisa jadi keterlambatan untuk mengambil barang,” jelasnya.

Pembatasan stok dagangan juga dilakukan untuk PKL kuliner. Dari biasanya sudah membayar uang muka untuk menyediakan stok ayam atau bebek. Maka saat ini hanya menyediakan terbatas. “Kalau liburan nataru ini berbeda dengan liburan Idul Fitri. Apalagi masih musim pandemi,” tandas Sito yang juga pedagang kuliner.

Namun demikian, dia tetap optimis meski masih situasi pandemi transaksi ekonomi akan kembali bangkit. Melalui kerjasama yang dilakukan dari pemerintah, salah satunya untuk mempromosikan dengan slogan Malioboro layak dikunjungi dan para wisatawan dipersilahkan untuk berkunjung ke Jogja. Namun harus tetap mengedepankan dan mentaati protokol kesehatan. “Alhamdulillah pada saat ini kondisi ekonomi kami sudah agak ada perubahan lebih baik daripada bulan-bulan kemarin. Sudah banyak yang datang ke Malioboro,” jelasnya.

Transaksi ekonomi diketahui mulai membaik sekitar pertengahan bulan Agustus. Meski sempat pasang surut menyusul insiden aksi rusuh di kawasan malioboro beberapa bulan lalu. Yang mengakibatkan beberapa hari tidak ada kunjungan. “Dan sejak awal Desember ini sudah nampak ada banyak giat pengunjung . Kami survey di lapangan sekalian mensosialisasikan ke pengunjung bahwa malioboro adalah kawasan bermasker dan harus ditaati protokolnya,” terangnya.

Perbedaan dari sebelumnya selama pandemi, transaksi ekonomi di Malioboro kurang lebih meningkat 30-45 persen. “Dibanding kalau Covid-19 awal-awal memang kita mati suri. Cuman sudah mulai brkembang lagi sekarang,” tambahnya.

Terpisah, Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi (HP) mengatakan bahwa pemulihan ekonomi tidak bisa dilepaskan dari prokes Covid-19. Dalam masa pandemi ini tempat yang akan dikunjungi masyarakat adalah yang menerapkan prokes Covid-19 dengan serius. “Masyarakat juga akan senang jika destinasi wisata, hotel, resto, cafe atau tempat-tempat umum itu serius melindungi mereka,” katanya.

Tak segan-segan pemkot juga akan melakukan sidak dan patroli di tempat-tempat umum tersebut. Ini agar orang yang berkunjung ke Jogja merasa aman dan nyaman. Sehingga tidak terpapar virus korona itu. “Maka tetap terapkan prokes dengan baik dan serius. Karena itu jaminan kita, sebagai upaya melindungi tamu dan warganya,” tambahnya. (**/wia/pra)

Jogja Utama