RADAR JOGJA – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja mendapat tambahan tugas mengelola sampah yang dihasilkan pasar tradisional di Kota Jogja. Itu sesuai rekomendasi BPK.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja, Sugeng Darmanto mengatakan ini sebagai tindak lanjut dari rekomendasi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terkait pengelolaan sampah. Sebelumnya, sampah yang dihasilkan dari pasar-pasar tradisional dikelola oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Jogja. “Nah untuk menyatukan pengelolaan, saat ini masuk ke kami,” katanya kemarin.

Sehingga, seluruh sampah dari pasar tradisional diangkut oleh armada dari DLH yang kemudian dibuang langsung ke Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan Bantul. Dan, tidak ada lagi tempat pembuangan sampah atau depo yang ada di pasar-pasar tradisional. “Seluruhnya sudah kami tutup. Kami akan upayakan juga untuk memanfaatkan sampah dari pasar tradisional ini menjadi kompos karena sampah yang dihasilkan didominasi sampah organik,” ujarnya.

Pengolahan sampah menjadi kompos ini juga akan menjadi salah satu strategi untuk menekan volume sampah yang dibuang ke TPST Piyungan. Mengingat usia teknis tempat pembuangan tersebut diperkirakan hanya tersisa dua atau tiga tahun. Apalagi, kota Jogja sendiri sangat bergantung dengan keberadaan TPST tersebut. “Karena memang di kota tidak memiliki tempat yang cukup untuk dijadikan TPST,” jelas mantan Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Jogja itu.

Menurut dia, dalam sehari rata-rata volume sampah yang dibuang dari kota Jogja ke TPST Piyungan mencapai 200 ton. Pun terkadang akan mengalami kenaikan saat terjadi libur panjang. Kenaikan bisa terjadi 10 persen. “Dibanding Kabupaten Sleman dan  Bantul yang juga memanfaatkan TPST Piyungan, Kota Jogja menjadi penyumbang terbanyak untuk total volume sampah yang dibuang,” jelas mantan Kepala Bidang Pencatatan Sipil Disdukcapil Kota Jogja itu.

Terlebih, jika ada kendala di TPST Piyungan yang harus ditutup sementara. Kota sendiri tidak bisa menyiasati lain kecuali hanya dengan menampung sampah di depo dan truk yang dimiliki DLH. “Sleman dan Bantul  tidak terlalu mengalami kendala kalau TPST Piyungan ditutup sementara karena masih memiliki tempat pembuangan untuk menampung sementara sampah sebelum dibuang ke TPA Piyungan,” tambahnya.

Maka, satu cara dan strategi untuk mengurangi pembuangan sampah ke TPST yaitu dengan pengelolaan sampah. Selain sampah dari pasar tradisional, DLH juga akan meningkatkan peran bank sampah untuk pengelolaan sampah. “Tidak hanya untuk sampah anorganik saja tetapi juga mengelola sampah organik menjadi kompos dan untuk budidaya maggot,” imbuhnya. (wia/pra)

Jogja Utama