RADAR JOGJA – Penyaluran BPUM sebesar Rp 2,4 juta dari usulan Dinas Koperasi, UKM, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Jogja sudah ditutup sejak (24/11) lalu.

Kepala Bidang UKM, Dinas Koperasi, UKM, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Jogja Bebasari Sitarini mengatakan, dari 15.736 usaha kecil menengah (UKM) yang diusulkan, terdapat 1.062 UKM penerima bantuan produktif usaha mikro (BPUM). Jumlah penerima ini berdasarkan SK yang dikeluarkan oleh Kementerian Koperasi Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah. “Dasarnya SK dari kementerian yang menerima BPUM-nya. Sisanya itu nggak cair, berarti dia nggak dapat dana BPUM,” katanya Rabu.(3/12).

Ada beberapa faktor yang dimungkinkan usulannya tidak cair karena tidak masuk dalam persyaratan yang ditentukan. Antara lain data tidak valid maupun ada diantaranya sedang mengakses pinjaman di perbankan. Sementara, rata-rata usaha yang dimiliki penerima BPUM ialah fesyen, kraft, kuliner dan jasa seperti laundry. “Usulan kami sampai tahap 19 saja. Memang ada persyaratan dari bank, yang menentukan cair tidaknya ya bank,” ujarnya.

Bagi penerima BPUM diharapkan dapat dimanfaatkan sesuai dengan peruntukannya. Sesuai dengan arahan sebelumnya, dalam penggunaan dana hibah dari pusat tersebut paling tidak untuk mendukung mereka dalam rangka penanganan Covid-19. Agar bisa bangkit dan memulihkan ekonominya.

“Kebanyakan, setelah diambil tiga sampel usaha sudah sesuai untuk tambah modal usaha. Kmrn kita kunjungi UMKM ecoprint, bakpia, dan lain-lain. Kalau bakpia untuk nambah modal beli bahan bakunya membuat bakpia,” jelasnya.

Dia tidak menampik, akibat kepengurusan BPUM yang diperpanjang dari rencana awal hanya sampai pada 10 September lalu berdampak pada peningkatan UMKM untuk memiliki izin usaha mikro (IUM). Jumlah itu meningkat menjadi 15.736 UMKM yang ber-IUM. “Itu pasti (meningkat) karena kita mensyaratkan untuk punya IUM. Karena syarat BPUM harus punya IUM, makanya mereka mengurus lewat OSS,” jelasnya.

Terpisah, Anggota Forum Komunikasi (Forkom) Umbulharjo Dameria Simanungkalit mengklaim, BPUM tersebut sangat membantu dan bermanfaat untuk memutar usahanya kembali. Sebab, selama pandemi usaha kulinernya ini sempat terhenti selama lima bulan. Aktif lagi sekitar bulan Agustus setelah cair mendapatkan bantuan produktif dari pemerintah pusat itu. “Kami manfaatkan untuk modal usaha,” katanya.

Usaha kulinernya yaitu makanan snack-nya terdampak pagebluk korona, akibatkan nol penghasilan selama lima bulan karena terhenti. Awalnya, terpaksa mengambil tabungan pribadinya untuk modal memutar ekonomi. “Pakai tabungan dan sudah habis. Sekarang alhamdulillah mulai bangkit sedikit demi sedikit,” ujarnya.

Setelah mendapat BPUM penghasilan mulai meningkat meski baru 50 persen dari sebelum pandemi. Pun saat ini hanya mampu memproduksi 350 pck putumayang perhari. Dari sebelum Covid-19 bisa mencapai 700 pck bahkan lebih. “Kami ada di pasar Lempuyangan dan Kranggan. Dan juga ke hotel-hotel dari pihak kedua,” tambahnya. (wia/pra)

Jogja Utama