RADAR JOGJA – Masih masa pandemi Covid-19, event Pekan Budaya Difabel (PDB) 2020 pun menampilkan berbagai karya terkait. Salah satunya karya para siswa difabel membuat masker.

Di antaranya Kaleb Wirayodhya Herawan yang terlibat sebagai peserta rona expo. Bocah sembilan tahun itu menunjukkan karya desainnya ke dalam sebuah masker. Kenapa masker? Karena situasi saat ini masih dalam masa pandemi sebagai pesan bahwa masker sudah menjadi kebutuhan gaya hidup masyarakat ketika hidup berdampingan dengan Covid-19. “Beberapa kali memang kami sudah produksi produk dengan hasil karya gambar dia. Tapi enggak secara langsung, ganbar dia kita digitalkan dulu untuk dijadikan produk,” jelas sang ibu Magdalena di sela event PDB 2020 di Kafe Susu Tuli Jalan Langenarjan Lor Panembahan Kraton Jogja Senin (30/11).

BAHASA ISYARAT: Pengunjung tunarungu berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat di dekat produk masker karya difabel dalam pameran PDB 2020, di Kafe Susu Tuli, Panembahan, Kraton, Jogjakarta, kemarin (30/11).(GUNTUR AGA TIRTANA /RADAR JOGJA)

Magdalena mengatakan sengaja mengikutkan anaknya agar lebih menumbuhkan rasa percaya diri. Meski, pribadi putra sulungnya itu sudah terbentuk dan terbiasa mengikuti kompetisi. “Kalau anak saya lebih passion-nya ke desain grafis. Sejak kecil dia memang suka mewarnai dan menggambar kita ikut arusnya aja,” katanya.

Dalam PDB 2020, sebanyak 30 pcs masker dipamerkan. Masker ini juga dijual seharga Rp 30 ribu. Desainnya lebih melambangkan sesuai kehidupan yang tengah terjadi saat ini. “Kami pilih karya bendera untuk jadi masker sebagai simbol bahwa di negara manapun kita sedang bersama-sama berjuang melawan Covid-19,” terangnya.

Selain itu ada motif lalu lintas ramai sebagai lambat untuk mengingatkan agar siapapun selalu memakai masker saat keluar rumah. Sementara, ada motif ayam dilambangkan semenjak Covid-19 ini dan belajar dari rumah, anak dengan keterbatasan autis dan kemampuan komunikasi terbatas ini pun juga mendapat aktifitas memelihara binatang. “Kebetulan kami memelihara ayam, jadi kami pilih gambar yang ayam tersenyum ini sebagai pengingat masa-masa kita belajar dari rumah. Tapi harus tetap menjalaninya dengan senyuman,” tuturnya. “Karya ini semua yang ada dimemori yang sangat kuat pada anak saya,” imbuhnya.

Komite Pekan Budaya Difabel 2020, Broto Wijayanto mengatakan, tahun ini adalah tahun kedua PDB yang sebelumnya bernama jambore difabel ini. Selama pandemi, mereka juga terkena dampak pandemi tidak bisa tampil menunjukkan berbagai potensinya. Momentum ini sebagai upaya membangkitkan kembali potensi nya yang sempat terkubur akibat pagebluk korona. “Dengan adanya ini mereka merasa bangkit kembali karena merasa punya wadah dan bisa punya tempat lagi untuk tampil,” katanya.

Namun, tujuannya tidak hanya sekadar wadah bagi siswa difabel. Melainkan, utamanya yaitu menunjukkan kemampuan, rasa percaya diri, serta jati diri para difabel. Meski dari evaluasi event mereka sudah mulai muncul pribadi-pribadi kreatif. Pada event kedua ini makin dikuatkan.

Pun mereka tidak hanya berdiri sendiri secara inklusif tetapi bagaimana mereka berperan di masyarakat dan menunjukkan kemampuannya. “Jogja sebagai kota inklusi semoga semakin maju dan teman-teman difabel tidak ragu lagi untuk menunjukkan kemampuannya dan semakin percaya diri,” tambahnya. (wia/pra)

Jogja Utama