RADAR JOGJA – Masih ingat aksi anarkis yang berujung pengerusakan gedung DPRD DIJ di kawasan Malioboro 8 Oktober lalu? Aparat kepolisian masih memburu para pelaku aksi anarkis tersebut. Terbaru, polisi mencokok dua pelajar di bawah umur yang terlibat aksi.

Keduanya berhasil ditangkap berkat rekaman video pada closed circuit television (CCTV) yang terpasang. Sehingga total pelaku pengerusakan yang berhasil dibekuk saat ini berjumlah enam orang. Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda DIJ Kombes Pol Yuliyanto mengatakan, kedua tersangka masih berusia 16 tahun. Yakni anak berhadapan dengan hukum (ABH) berinisial D dan E.

Yuliyanto menjelaskan, kejadian bermula saat aksi unjuk rasa berlangsung tak kondusif. ABH D dan ABH E berjalan ke arah tulisan yang terpampang di pagar tembok depan Kantor DPRD DIJ. Karena terprovokasi akan situasi yang ricuh keduanya melakukan pengrusakan tulisan di pagar tembok tersebut secara bersama-sama. “ABH D mencopot tulisan dengan paksa menggunakan kedua tangan lalu melemparkannya ke arah petugas yang berjaga di dalam gedung DPRD DIJ. ABH E juga ikut mencopot dengan paksa tulisan tersebut sampai lepas dari tembok sampai rusak lalu menendang tulisan-tulisan,” jelasnya di Mapolresta Jogja Senin (30/11).

Aksi pengerusakan terekam kamera, dan melalui video tersebut petugas kepolisian melakukan penyelidikan sehingga didapati identitas kedua ABH. Selanjutnya pada 14 Oktober 2020 sekira pukul 18.00 hingga pukul 21.00 petugas kepolisian membekuk ABH D dan ABH E beserta barang bukti. “Setelah melakukan pencocokan akhirnya berhasil diamankan dua orang pelaku,” jelasnya.

Polisi mengamankan barang bukti berupa pakaian yang dikenakan pelaku saat kerusuhan serta lima potong bekas tulisan di dinding pagar depan DPRD DIJ berbahan stainless.

Atas perbuatannya, ABH D dan ABH E disangkakan Pasal 170 ayat 1 KUHP dengan ancaman maksimal lima tahun enam bulan. Saat ini penanganan perkara telah mencapai tahap P21. Barang bukti telah diserahkan ke Kejaksaan Negeri Jogjakarta untuk proses pengadilan.

Sebelumnya, polisi juga meringkus empat orang pelaku pengerusakan pos polisi Gardu Anim Jalan Abu Bakar Ali. Mereka tertangkap tangan saat hendak melakukan pembakaran.Empat tersangka yakni CF 19 warga Danurejan, ABH A (16) warga Danurejan, ABH B (16) warga Kasihan, serta ABH C (16) warga Ngampilan.

Saat melakukan aksinya, mereka memiliki peran masing-masing. Yakni ABH B melakukan penendangan pos polisi, ABH C memukul pos dengan besi, CF membeli dan menyiramkan bensin, adapun ABH A ikut menyiramkan bensin di bagian belakang pos polisi.”Hasil pemeriksaan tidak ada yang berangkat untuk sengaja melakukan pengerusakan. Tetapi karena memang situasi, banyak yang melakukan pengerusakan lalu mereka terbawa emosi,” tandasnya.

Mantan Kapolres Sleman itu melanjutkan, polisi masih memburu orang yang terlibat dalam aksi pengerusakan. Sehingga dimungkinkan jumlah tersangka akan bertambah. Polisi juga masih mengejar pelaku pembakaran Restoran Legian di Jalan Malioboro. Pihaknya telah melakukan pendalaman rekaman CCTV dan melakukan pemeriksaan terhadap 7 orang saksi. “Meliputi pelapor, pegawai cafe, pemilik cafe dan beberapa orang yang melihat peristiwa,” tuturnya.

Polisi juga menemukan lima kandidat pelaku pembakaran setelah upaya face matching dilakukan. Ada beberapa kandidat yang sedang didalami. Namun hasilnya masih dilakukan pendalaman. “Karena banyak sekali video harus dibaca dan diurutkan satu persatu. Kami me-recovery dari rekaman CCTV yang durasinya terbatas. Recovery ini membutuhkan waktu,” jelasnya. (tor/pra)

Jogja Utama