RADAR JOGJA – Jalur pendakian menuju puncak Gunung Merapi telah mengalami perubahan drastis sejak erupsi 2010. Setelah 10 tahun berlalu, kini tidak sedikit jalur pendakian yang hilang akibat hancur terkena longsoran material maupun tertutup semak belukar dan pepohonan yang tumbang.

Satu di antaranya erupsi telah menghapus jalur pendakian melalui rute Kinahrejo. Bahkan SAR DIJ tidak merekomendasikan lagi jalur ini karena pertimbangan segi keamanan para pendaki. Baik dalam keadaan status aktivitas normal, waspada apalagi hingga siaga.

“Iya, intinya kalau pendakian Merapi lewat jalur selatan, kalau dari kami sudah tidak merekomendasi. Sudah tidak layak kalau untuk pendakian. Masalahnya dari perspektif aman dan tidak aman, rutenya sudah putus,” ujar Komandan SAR DIJ Brotoseno saat ditemui Radar Jogja Jumat (27/11).

Jalur itu tidak memungkinkan lagi untuk dilalui pendaki. Banyak pertimbangan, terlebih melewati jalur selatan sudah tidak bisa naik hingga puncak. Sebab, runtuhnya “geger boyo”  Merapi sudah berubah menjadi sungai yang mengarah ke Kali Gendol dan Kali Woro.

“Dulu kalau lompat cuma satu meteran. Sekarang sudah lebar, pasca erupsi sekitar 150 sampai 200 meteran. Karena ambrol itu,”  ungkapnya.

Bagaimana gambaran jalur itu sebelum hilang? Ia menceritakan, jalur tersebut memang medan yang sangat menarik bagi para pendaki sebelum erupsi Merapi. Menariknya, karena ada tantangan medan yang naik turun maupun lompatan-lompatan tertentu. Kemudian dua kali bisa melewati kawah mati sebelum mencapai titik Puncak Garuda.

“Begitu naik hampir sampai puncak, kita masuk gerbang kawah setengah mati itu, kemudian turun ke kawah mati. Kawah mati kita naik lagi, baru sampai Puncak Garuda melihat kawah yang kemarin erupsi itu. Sekarang petanya sudah hancur,” cerita pria yang hobi mendaki gunung sejak usia 17 tahun ini.

Pendakian kali pertama ke Merapi lewat jalur Kinahrejo sekitar tahun 1976. Meski kegiatan rutin pendakian sebelum tahun 2010 itu tidak selalu melewati jalur selatan. Namun dibandingkan jalur-jalur lain Merapi, jalur selatan memang menjadi tantangan dan paling menarik. “Artinya, merasa mendaki gunung lah,” ujarnya.

Selain itu, jalur selatan lebih bisa membuat pendaki menjadi lebih bisa memahami betul akan keindahan alam semesta. Bak menjadi alasan dirinya lebih bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. “Lebih bisa membikin insaf dari jalur selatan. Kita ini kan insaf terkadang kalau betul-betul melihat kebesaran-kebasaran Allah. Ternyata sehebat ini, Allah membuat keindahan itu luar biasa. Terus kita menjadi kecil, tidak punya apa-apa terus baru insaf. Nyampai turun kumat,” candanya sambil tertawa.

Diakui Merapi seperti sudah menyatu dari bagian kehidupannya sejak 1976 silam. Saat ia masih remaja sekalipun, tidak pernah ada rasa ketakutan untuk mendaki gunung. Jalur, rute, medan yang berat dilalui tidak menjadikan masalah. Justru dijadikan sebagai filosofi hidupnya bahwa mendaki gunung merupakan pendidikan karakter tentang pantang menyerah.

“Kita kalau naik gunung sudah tahu medannya, begitu sampai tengah baru merasakan masih jauh dan lewat rute yang berat baru sampai puncak. Belum sampai puncak aja kita sudah memikirkan nanti masih turun. Tapi kita tidak boleh menyerah. Maka prinsip orang naik gunung itu bukan mencapai puncak dan bukan menaklukkan gunung. Tapi kita bisa kembali sampai ke rumah dengan selamat,” terangnya.

Pasca erupsi 2010, Brotoseno baru sekali mendaki Merapi. Dan itu dilakukan dengan melewati jalur utara atau Selo. “Kalau dari utara tidak begitu signifikan tantangannya,” tambahnya. Oleh karena itu, para pendaki pemulu direkomendasikan lewat jalur lewat Selo, Boyolali. (wia/laz)

Jogja Utama