RADAR JOGJA –Disdik Kota Jogja terus bersiap untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka di sekolah. Khususnya persiapan penambahan sarana dan prasarana penunjang prokes Covid-19.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Jogja Budi Santoso Asrori mengatakan, pada November ini ada penambahan pemasangan wastafel dan kesiapan thermogun di masing-masing sekolah. Seluruh sekolah tingkat SMP, SD, maupun TK negeri akan dilengkapi semua sarpras agar siap sewaktu-waktu dilakukan pembelajaran tatap muka.

Menurut dia, semua sekolah harus memenuhi fasilitas sarpras itu. Kalau kepastian sekolah SD atau SMP yang tatap muka saya belum bisa menyampaikan. “Tapi langkah yang dilakukan sekarang, sekolah melengkapi sarpras jika kapanpun dilakukan pembelajaran tatap muka,” katanya Jumat (27/11).

Budi menjelaskan terkait kesiapan Satgas Covid-19 di masing-masing sekolah juga sudah dilakukan tiap sekolah. Beberapa yang masih kurang ialah penguatan prokes lain seperti mengatur alur masuk dan keluar siswa saat di sekolah. Maupun tanda-tanda physical distancing yang harus dilengkapi. “Nanti akan ada syarat lain yang akan disosialisasikan di sekolah selain westafel dan thermo gun,” ujarnya.

Selama ini, Disdik sudah melakukan pemasangan wastafel-wastafel di tiap titik di lingkunhan sekolah. Seperti penambahan wastafel di depan pintu gerbang, tiap kelas maupun kamar mandi sekolah. Disamping, penambahan fasilitas untuk penguatan prokes ini untuk persiapan pembelajaran tatap muka. Juga belajar  pengalaman munculnya klaster pendidikan di Gunung Kidul. “Kami perlu kehati-hatian kalau ada pembukaan sekolah yang penting itu. Ada SOP (standar operasional prosedur) setiap proses kegiatan yang ada di sekolah, ya ketika masuk, pengantar siswa, guru rapat, pembelajaran dan lain-lain,” jelasnya.

Karena itu, untuk mengantisipasi hal serupa terjadi di lingkungan pendidikan sekolah di kota. Maka Disdik berupaya seoptimal mungkin meminimalkan kemungkinan terjadinya kasus Covid-19 di lingkungan sekolah dengan penambahan fasilitas tersebut. Dan pematangan rancangan aturan petunjuk teknis pembelajaran tatap muka di sekolah pada masa pandemi.

Meskipun begitu mantan Sekretaris Disdik Kota Jogja itu menyebut, kepastian pelaksanaan belum dapat disampaikan. Budi mengatakan, hal itu sesuai kebijakan pemerintah kota. Tapi beberapa aturan teknis, seperti tidak ada istirahat, dan lainnya akan diatur dalam petunjuk teknis. “Pelaksanaan pembelajaran yang jelas prinsip kehati-hatian. Pokoknya prioritas utama adalah keselamatan seluruh warga di sekolah,” tambahnya.

Sebelumnya, Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi (HP) mengatakan diantara dari berbagai persiapan tersebut yang paling penting ialah sekolah bisa menjalankan proses pembelajaran tatap muka manakala orang tua menginginkan. Terkait teknisnya, saat ini masih dalam diskusi pihak Pemkot. “Kami berharap November sampai Desember ini merupakan tahap persiapan, sosialisasi dan uji coba,” katanya.

Jika semua tahapan ini sudah siap. Maka, awal Januari dimungkinkan pembelajaran tatap muka bisa dimulai untuk tingkat SD dan SMP. Namun, kembali lagi hal ini juga tergantung dari perkembangan kasus Covid-19 di kota, kesiapan sekolah, dan siswa. Tapi HP menyebut, untuk TK belum direkomendasikan. “Karena kalau anak-anak dibawah lima tahun untuk diajak mengikuti prokes kan masih belum bisa. Maka ini belum jadi perhatian yang penting. Ini termasuk paling akhir untuk direkomendasikan karena memang spesifik yaitu anak-anaknya,” imbuhnya.

Sementara itu anggota Komisi D DPRD Kota Jogja M. Ali Fahmi meminta pembelajaran tatap muka agar tidak dipaksanan. Mengingat perkembangan kasus Covid-19 di Kota Jogja akhir-akhir ini semakin meningkat. “Faktorkesehatan maupun keselamatan siswa dan tenaga pendidik lebih diutamakan,” pesannya.

Politikus PAN itu menambahkan, penambahan materi pembelajaran bersifat konsultasi khusus untuk siswa kelas 6 SD dan kelas 9 SMP yang akan ujian lokal pengganti UN, itu pun harus dengan protokol kesehatan yang ketat. “Harus persetujuan orang tua, waktu konsultasi dibatasi termasuk pembatasan jumlah siswa per hari yang konsultasi misal, hanya 5-6 orang,” katanya. (wia/pra)

Jogja Utama