Upaya pembinaan dan pengembangan kesejarahan bisa dilakukan dengan beragam cara. Salah satunya melalui lantunan nada perjuangan dalam pertunjukan Serenade Bunga Bangsa.

RADAR JOGJA – Pada 23 November 2020, Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY menggelar pertunjukan musik Serenade Bunga Bangsa. Konser ini untuk memperingati Hari Pahlawan Nasional.

Penyelengaraan dilakukan secara terbatas karena situasi pendemi Covid-19. “Kalau dulu kami menyelenggarakan live dengan mendatangkan audience sekarang kita menggelar secara online. Kami tetap harus berbuat untuk penayangan dengan cara yang berbeda,” jelas Kepala Seksi Sejarah Dinas Kebudayaan DIY Gede Adi Atmaja

Selain untuk memberikan dedikasi kepada pahlawan yang telah berjasa kepada negara, konser tersebut juga didedikasikan kepada tenaga medis yang tengah berjuang menangani pandemi Covid-19. Tenaga medis dianggap sebagai seorang pahlawan, berkat jasanya banyak nyawa yang bisa diselamatkan.

“Bagaimanapun, berjuang tidak harus dengan mengangkat senjata. Bentuk perjuangan kita berbeda, menyelamatkan masyarakat dari Covid-19,” jelasnya.
Menurutnya, walaupun di tengah situasi pandemi, upaya pengembangan nilai-nilai kesejarahan di masyarakat harus terus digalakkan. Salah satunya untuk membentuk semangat persatuan dan kesatuan para pejuang.

Antusiasme masyarakat terhadap kegiatan tersebut juga cukup tinggi. Konser yang ditayangkan dalam kanal Youtube Tasteofjogja Disbud DIY mampu menyerap hingga 1.500 penonton.

“Cukup banyak. Kami berharap setidaknya dari kegiatan ini bisa menanamkan nilai-nilai yang telah diteladankan oleh pejuang kita,” tuturnya.

Musisi yang terlibat sekitar 40 orang. Terdiri dari string dan kelompok paduan suara. Konduktor Eki Satria dan kelompok musik Allilaqus Symphony Orchestra dan Con Amore Voice membawakan enam lagu perjuangan.

Sedikit berbeda dengan penyelenggaraan sebelumnya, lagu yang disajikan kali ini adalah lagu perjuangan yang belum terlalu populer di telinga masyarakat. Misalnya adalah lagu berjudul Di Timur Matahari ciptaan W.R. Soepratman dan Terima Kasih Pahlawanku karangan Hussein Mutahar.

“Kalau lagu seperti Padamu Negeri dan Sorak Bergembera kan sudah dikenal. Tapi, kita juga menayangkan lagu-lagu yang selama ini diciptakan komposer terkenal seprti W.R. Soepratman dan Mutahar namun belum sering didengar oleh masyarakat,” jelasnya.

Dalam konser tersebut, konduktor Eki SatriaIsi ingin memberikan apresiasi kepada pencipta lagu perjuangan dan komposer yang terus berkarya di bawah tekanan para penjajah. “Lirik demi lirik sangat dipikirkan mereka harus hati-hati karena situasi sangat membahayakan diri mereka. Generasi kita mungkin tidak banyak yang tahu komposer mencipatakan lagu di zaman penjajahan. Itu yang ingin kami sampaikan kepada masyarakat,” tuturnya. (tor/amd)

Jogja Utama