RADAR JOGJA – Gubernur DIJ Hamengku Buwono X (HB X) memastikan kapasitas rawat inap isolasi pasien Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di Jogjakarta masih mencukupi. Berdasarkan data per Senin (23/11) setidaknya kapasitas ruang medis terisi 70 persen. Pernyataan ini sekaligus menjawab informasi simpang siur penuhnya ruang medis bagi pasien Covid-19.

Diketahui bahwa dua shelter di Sleman sempat penuh. Kedua fasilitas ini untuk merawat pasien terkonfirmasi positif Covid-19 asimptomatik. Walau begitu, dalam beberapa hari belakangan, kapasitas kembali bertambah. Terlebih setelah beberapa pasien dinyatakan sembuh.

“Shelter di Sleman penuh, tapi itu kan OTG (terkonfirmasi positif Covid-19 asimptomatik). Sebenarnya mandiri di rumahnya sendiri bisa. Tapi Sleman maunya menanggung (imbasnya) ya nambah dewe (fasilitas isolasi),” jelasnya, ditemui di Kompleks Kantor Kepatihan Pemprov DIJ, Selasa (25/11).

Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini turut berkaca pada mobilitas warga. Belum patuhnya warga atas protokol kesehatan, berdampak pada angka kasus Covid-19. Terbukti dengan peningkatan kasus di Jogjakarta secara signifikan.

HB X meminta asosiasi turut berperan. Seperti Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) di Jogjakarta. Berupa pengawasan prokes oleh setiap anggotanya. Tak hanya internal tapi juga kepada tamu atau konsumennya.

“Saya kira, justru yang mengontrol dari PHRI sendiri. Misalnya restoran hotel dibuka silakan. Yang mengontrol ya PHRI sendiri,” katanya. 

Disinggung tentang dampak libur panjang, HB X tak lantas mengiyakan. Hanya saja sempat menyinggung munculnya kerumunan dan lemahnya penerapan prokes Covid-19. Walau begitu pihaknya tak pernah melarang datang warga atau wisatawan dari luar Jogjakarta.

“Kalau libur panjang besok mau dibatalin pemerintah pusat karena kasus kecenderungan naik ya kami ikut saja. Ketentuan nasional dicabut ya kami (ikut) dicabut,” ujarnya. (dwi/tif)

Jogja Utama