RADAR JOGJA – Gubernur DIJ Hamengku Buwono X (HB X) memastikan jajarannya mendukung fasilitas tenaga medis penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Salah satunya adalah penyiagaan Hotel Mutiara sebagai shelter peristirahatan. Terutama yang baru saja bertugas di fasilitas medis Covid-19.

Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini menuturkan tenaga medis di DIJ terbatas. Terlebih setelah tenaga medis dari sejumlah rumah sakit dikirimkan ke fasilitas darurat penanganan Covid-19 di Jakarta. Seperti tim kesehatan di wisma atlet.

“Dari dokter dan perawat berkurang karena ditugaskan ke wisma atlet, karena saat itu butuh banyak sumber daya manusia. Otomatis Jogjakarta kehilangan dokter dan perawat, sehingga akhirnya sekarang mengajukan SDM,” jelasnya, Selasa (24/11).

Pengajuan SDM tenaga medis ini sendiri sebagai wujud antisipasi. Dalam beberapa waktu terakhir, angka kasus Covid-19 di Jogjakarta melonjak. Disatu sisi jumlah tenaga medis tidak ideal. Dikhawatirkan penanganan pasien Covid-19 tak optimal.

Berdasarkan catatan Gugus Tugas Covid-19 DIJ, jumlah tenaga medis berkurang 50 personel. Penggunaan Hotel Mutiara inilah sebagai tempat singgah. Sehingga para tenaga medis dari luar Jogjakarta tak perlu mencari fasilitas menginap.

“Sudah mengajukan bantuan SDM ke Departemen Kesehatan (Kemenkes). Na tidurnya di Hotel Mutiara saja karena sudah ada bed dan sudah perkamar. Sudah ideal untuk tenaga medis,” katanya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) DIJ Pembajoen Setyaningastutie menuturkan pengajuan tenaga medis tambahan mencapai 200 personel. Meliputi dokter, Ahli Teknologi Laboratorium Medik (ATLM), radiografer, dan sebagainya. Penempatannya di rumah sakit yang terkendala keterbatasan SDM.

Pengajuan ratusan tenaga medis tela melalui kajian. Terutama kebutuhan di masing-masing rumah sakit rujukan Covid-19. Tujuannya agar penanganan medis di Jogjakarta optimal.

“Nanti dapetnya berapa, ya enggak tahu, belum. Karena kami sudah bersurat tapi belum ada balasan dari Kemenkes,” ujarnya.

Tak hanya SDM tenaga kesehatan, Pemprov DIJ juga mengoptimalkan fasilitas penunjang. Berupa penambahan jumlah tempat tidur untuk pasien Covid-19. Hanya jumlah unit belum diajukan ke Kemenkes.

Pengajuan fasilitas, lanjutnya, tak sama dengan jumlah tenaga kesehatan. Ini karena satu pasien bisa ditangani lebih dari satu personel. Baik oleh dokter maupun perawat medis.

Sebagai perbandingan, Pembajoen menggambarkan kondisi kesehatan pasien. Semakin kritis kondisi kesehatan pasien, maka jumlah tenaga medis semakin banyak. Terlebih jika pasien menjalani perawatan di ruang ICU. 

“Termasuk juga kualifikasinya, untuk merawat di ICU itu harus membutuhkan pelatihan yang cukup banyak. Jadi memang tidak bisa asal rekrut atau melibatkan tenaga medis,” katanya.(dwi/tif)

Jogja Utama