RADAR JOGJA – Even tahunan Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) digelar tidak biasanya. Kali ini yang memasuki tahun ke- 25, acara pun dihelat dengan konsep daring (dalam jaringan) di tengah pandemi Covid-19.
Project Director YGF Ishari Sahida mengatakan, usia ke-25 tahun bukan sekadar romantisme, melainkan menjadi momentum untuk introspeksi diri. Berkaitan terhadap hal-hal yang sudah dilakukan setiap tahun tanpa terhenti lebih dari 10 kali itu.

“Ya, even ini bukan sekadar perayaan, tapi sekaligus untuk mengevaluasi apa yang sudah kami lakukan dan manfaatnya. Momentum ini juga menjadi pemikiran perihal apa yang akan kami lakukan setelah 25 tahun,” katanya di Pendapa Komunitas Gayam 16, Jalan Mantringawen Lor, Jogja, kemarin (18/11).

Kondisi pandemi menjadi tantangan YGF bahwa perhelatan yang digelar ke-25 ini bukan sekadar perayaan, melainkan kontemplasi untuk memotivasi. Bahwa gamelan merupakan kesatuan dan tidak modular. Artinya saat memainkannya harus bersama-sama atau berbarengan. “Ini jadi paradoks di tengah pandemi. Lalu, apakah karena itu tidak bisa menghadirkan gamelan?,” ujarnya.

Menurut Ari Wulu, sapaan akrabnya, YGF sebagai tempat berkumpul para pecinta gamelan. Meskipun di tengah pandemi, perkumpulan ini bisa diwujudkan melalui pemanfaatan teknologi. Perhelatan ke-25 tahun inilah membuktikan even ini tetap eksis mengikuti zaman.

“Dengan menyaksikan perhelatan ke-25 tahun YGF dengan cara berbeda, juga semakin membuat orang kian fleksibel bersentuhan dengan gamelan. Justru disiarkan secara daring ini membuat YGF bisa ditonton di mana pun,” jelasnya yang menyebut live streaming melalui www.YGFLIVE.com

Ada empat program yang dihadirkan dalam 25 tahun YGF. Pergelaran gamelan yang menghadirkan konser gamelan lintas genre dari pecinta, pemain, dan penikmat gamelan di seluruh dunia. Selain itu ada kegiatan rembug budaya, lokakarya budaya, dan pergelaran tari.

Konser gamelan diikuti belasan penampil yang berasal dari Jogja, luar Jogja, dan luar negeri seperti empat pengampu negara yaitu Prancis, Selandia Baru, Singapura, dan Amerika Serikat. Semua program dijalankan secara daring selama lima hari, mulai pukul 19.30 hingga 22.00.

Masing-masing penampil dari luar Jogja akan mengirimkan karya atau penampilannya dalam bentuk video yang dibuat di rumah, pendapa, atau studio masing- masing. Video itu akan disiarkan secara live dari studio masing-masing wilayah.

“Sementara penampil dari Jogja akan tampil di sini (Pendapa Komunitas Gayam 16) lalu disiarkan secara langsung. Untuk program lainnya, rembug budaya dan lokakarya budaya secara daring juga. Program ini akan disiarkan live dari studio broadcast, kemudian disiarkan melalui website YGF,” tandasnya.

Sebagai yang dituakan dalam Komunitas Gayam16, Ajid Dewa menambahkan, tema dalam setiap YGF berbeda-beda, namun pada tahun ini mengangkat lebih kepada pesta peraknya. Mengadop dari istilah Sultan HB IX yaitu cecikal, bebakal, tetinggal. Cecikal artinya ketika pertama kali membuang benih dan menanamnya. Kemudian bebakal ketika benih itu tumbuh dan merawatnya, serta tetinggal adalah sesuatu ditinggalkan.

Sementara, Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya DIJ Dwi Ratna Nurhajarini mengatakan, kegiatan ini merupakan salah satu strategi kemajuan dan pengembangan kebudayaan untuk memperkuat kebudayaan nasional itu sendiri. Dan salah satu upaya mengembangkan budaya nasional untuk memperkokoh kedudukan Indonesia dimata dunia. (sce/wia/laz/by)

Jogja Utama