RADAR JOGJA – Memperingati World Antimicrobial Awareness Week atau Pekan Kesadaran Antimikroba Dunia yang diinisiasi WHO, kumpulan komunitas apoteker yang menyebut dirinya Jagareksa Antibiotik menggelar aksi edukatif di Titik Nol Kilometer kemarin (18/11). Sebanyak 10 peserta aksi menunjukkan poster-poster berisi pesan khusus kepada pengendara yang kebetulan melintas di kawasan ini.

Salah satu pesannya adalah seruan untuk menjaga dan memelihara obat antimikroba sebagai wujud kepedulian terhadap dunia. Koordinator Aksi Sukir Satrija Djati menjelaskan, antimikroba adalah pusaka umat manusia. Itu adalah sekumpulan obat untuk menyembuhkan infeksi yang disebabkan bakteri, virus, jamur, maupun protozoa. “Tapi sayangnya obat-obat ini semakin hari khasiatnya mulai menurun dan berkurang karena digunakan dengan tidak benar,” paparnya.

Penggunaan antimikroba yang tidak tepat dapat memunculkan resistensi antimikroba di tubuh manusia. Antimikroba kehilangan kemampuan untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroba, sehingga penggunaannya sebagai terapi penyakit infeksi menjadi tidak efektif lagi.
“Harapannya masyarakat bisa menggunakan antimikroba dengan baik. Contoh kalau obat yang namanya Amoxicillin dan seterusnya itu, belinya harus dengan resep dokter. Masyarakat kadang beli tanpa resep dokter. Itu sesuatu yang keliru,” tandasnya.

Obat antibiotik juga harus dikonsumsi sampai habis. Penggunaannya juga perlu dikonsumsi secara teratur. “Harus dihabiskan dan jangan dibagi-bagikan. Kalau misalnya menggunakan sehari tiga kali setelah makan pagi, siang, sore itu juga keliru. Harusnya 24 jam dibagi 3. Jadi minumnya tiap 8 jam,” katanya.
Menurutnya, menjaga antimrikoba menjadi bagian dari tanggung jawab generasi ini. Sehingga ke depannya anak cucu akan mendapakan manfaatnya. “Anak cucu kita jika tidak punya antimikroba, bisa jadi sore sakit besok pagi meninggal dunia karena obatnya sudah habis,” paparnya.

Masyarakat diharapkan juga menyadari akan bahaya resistensi antimikroba seperti obat antibiotik, antivirus, antijamur, dan antimalaria. “Itu pusaka, harus kita jaga dengan menggunakan dengan sebaik baiknya,” tuturnya. (tor/laz/by)

Jogja Utama