RADAR JOGJA – Balai Perlindungan dan Rehabilitasi Sosial Wanita (BPRSW) Dinas Sosial DIY memiliki dua program unggulan. Yakni program Cepat Lindungi dan Layani Wanita Korban Tindak Kekerasan (Celia Wakotik) dan Pojok Bermain Wisma Bunda (Poin Manda).

Kepala BPRSW Retno Basundari menjelaskan, Celia Wakotik menjadi program prioritas bagi wanita korban tindak kekerasan. Program itu mengharuskan seluruh elemen BPRSW mempercepat proses pelayanan dan perlindungan sosial bagi wanita korban tindak kekerasan. “Ini merupakan pelayanan unit gawat darurat bagi wanita yang mengalami tindak kekerasan,” katanya Minggu (15/11).

Sebelum Celia Wakotik diterapkan, terang Retno, pelayanan bagi wanita korban tindak kekerasan masih diperlakukan sama dengan penyandang masalah sosial lainnya. Membutuhkan waktu satu hari hingga seminggu bagi instansinya melakukan pendampingan.

“Asalkan korban memenuhi kriteria yang telah ditentukan, dengan program Celia Wakotik ini kami dapat secepatnya menerima setiap rujukan penanganan korban. Tanpa harus melalui proses assessment maupun kelengkapan dokumen lainnya,” ungkapnya.

Selanjutnya, korban mendapatkan perlindungan dan pendampingan fisik maupun mental. Tindakan ini bertujuan mempercepat pemulihan trauma yang dihadapi. Setelah korban menjadi warga binaan, program Poin Manda mulai diterapkan.

Kepala Seksi Pelayanan dan Rehabilitasi BPRSW Suryatmiyati menambahkan, Poin Manda ini merupakan program fisik. Berupa pembangunan fasilitas bermain, ruangan konsultasi, dan penginapan bagi warga binaan.
“Kami berusaha memberikan fasilitas yang aman, nyaman dan menyenangkan bagi warga binaan,” tambah dia.

Fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan untuk bermain dan bercengkerama bagi warga binaan. Sekaligus berkonsultasi dengan pendamping serta psikolog.
Tujuan utama Poin Manda mempercepat pengungkapan masalah yang sedang dihadapi warga binaan. Bukan hanya itu, kejenuhan warga binaan dapat berkurang. Sehingga, pengungkapan masalah warga binaan bisa lebih cepat didapatkan.

Suyatmiyati meyakini, tempat yang nyaman dan menyenangkan tersebut dapat berpengaruh terhadap psikis warga binaan. Inovasi ini juga mempermudah psikolog dan pendamping dalam membimbing warga binaan. “Poin Manda juga merupakan media bagi warga binaan untuk bisa tertawa dan bergembira di tengah trauma yang mereka alami,” tandasnya.

Untuk diketahui BPRSW merupakan salah satu unit pelaksana teknis (UPT) Dinas Sosial DIY. Seluruhnya ada enam UPT yang dimiliki Dinas Sosial DIY. Lima UPT lainnya terdiri atas BPRSPA, BPSBR, BRSBKL, BPTSW dan BRTPD. (kus)

Jogja Utama