RADAR JOGJA – Angka kehamilan selama masa pandemi Covid-19 di Kota Jogja berhasil dikendalikan. Selain ada penurunan secara kumulatif, angka kelahiran remaja serta kehamilan tidak diinginkan juga terjadi penurunan antara sebelum pandemi dan setelahnya.

Kekhawatiran adanya baby boom selama masa pandemi Covid-19 tidak terjadi di Kota Jogja. Hasil pendataan Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dalduk KB) Kota Jogja hal itu bisa diantisipasi.

Plt Kepala Dinas Dalduk KB Kota Jogja Tri Karyadi Riyanto mengatakan, angka kehamilan kumulatif hingga Februari atau sebelum pandemi ada 1.118 orang. Sedangkan kumulatif hingga akhir September atau setelah pandemi ada 1.068 orang. “Jika kita rinci lagi untuk kategori kelahiran remaja dan kehamilan tidak diinginkan, sebelum dan sesudah pandemi juga ada perbedaan,” katanya belum lama ini.

Riyanto menjelaskan, yang menjadi pokok pembahasan ialah kehamilan tidak diinginkan atau dikehendaki (KTD). Khusus untuk persalinan remaja, periode Januari hingga Februari atau sebelum pandemi tercatat ada 11 orang. Rata-rata per bulan sekitar 5-6 kasus. Kemudian hingga September atau setelah pandemi terdapat 28 orang atau rata-rata per bulannya sekitar tiga orang. “Persalinan remaja ini usia di bawah 19 tahun. Karena bisa berasal dari memang pernikahan dini atau dari remaja yang melahirkan karena pergaulan dan hamil di luar nikah,” ujarnya.

Begitu pula KTD hingga Februari ada 44 orang atau rata-rata bulanan 22 orang. Kemudian hingga September ada 169 orang atau rata-rata 18-19 orang per bulan. “Dari angka itu kan bisa dilihat selama pandemi justru angkanya lebih sedikit jika dibandingkan sebelum pandemi,” jelasnya.

Sedangkan kehamilan tidak diinginkan atau tidak dikehendaki penyebabnya pun bervariasi. Angkanya bisa dari remaja yang karena pergaulan kemudian terpaksa menikah. Namun rata-rata karena belum ingin menambah anak atau sudah tidak ingin memiliki akan tetapi tidak menggunakan alat kontrasepsi.
Dia menyebut, pengendalian itu salah satunya tidak lepas dari upayanya dalam memberikan bimbingan dan edukasi. Terutama peran dari Penyuluh KB yang turut berperan dalam menegakkan protokol kesehatan (prokes). Hal ini karena selama masa pandemi, 21 Penyuluh KB di Kota Jogja tetap menjalankan fungsinya dengan baik meski harus menjaga dirinya dengan baik.

Salah satu layanan yang dilakukan Penyuluh KB selama pandemi yaitu mengantarkan alat kontrasepsi ke peserta KB secara langsung. Sebelum pandemi, layanan itu tidak diberikan karena peserta KB bisa leluasa mengaksesnya ke fasilitas layanan kesehatan. “Kami justru memberikan apresiasi kepada Penyuluh KB karena tetap bekerja di saat pandemi. Terutama dalam mengantarkan alat kontrasepsi berupa kondom untuk pemakai ulang,” pungkasnya.

Sedangkan bagi pasangan usia subur yang hendak menjadi peserta KB disarankan menggunakan alat kontrasepsi jangka panjang seperti IUD, implan atau susuk. Pasalnya jika menggunakan alat kontrasepsi jangka pendek seperti Pil KB atau kondom dibutuhkan konsistensi sehingga rentan lupa hingga menyebabkan kehamilan yang tidak diinginkan.

Terkait kekahawatian penularan Covid-19 kepada ibu hamil, Kepala Dinas Kesehatan Kota Jogja Emma Rahmi Aryani mengatakan, memberikan perhatian khusus pada ibu hamil. Terutama yang hendak melakukan persalinan. Di antaranya dengan mewajibkan rapid diagnostic test bagi yang hendak melahirkan. “Sebelum melahirkan ahrus jalani tes cepat, jika dinyatakan positif saat persalinan harus menjalankan protokol kesehatan ketat,” ungkapnya.
Selama masa kehamilan juga menjadi perhatian. Waktu periksa harsu sudah sesaui jadwal janji temu dengan dokter. Tujuannya supaya tidak mengantre lama di tempat periksa. Mereka juga wajib menjalankan 3M, yaitu memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak. Selain itu, kelas ibu hamil juga dilakukan secara daring atau petugas mendatangi rumah. (**/wia/pra)

Jogja Utama