Penyelenggaraan pembelajaran Tahun Pelajaran Baru 2020/2021 di masa pandemi Covid-19 bagi siswa SD dan SMP telah ditetapkan Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta.

RADAR JOGJA – Tahun ajaran baru tetap dimulai pada Juli 2020. Untuk daerah yang berada di zona kuning, oranye dan merah dilarang melakukan pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan. Satuan pendidikan di zona tersebut tetap melanjutkan belajar dari rumah atau BDR.

“Kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan, keluarga dan masyarakat merupakan prioritas utama,” ujar Kepala Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta Budi Santosa Asrori di kantornya Kamis (12/11).

Utamakan Kesehatan dan Keselamatan Peserta Didik
BELAJAR BERSAMA: Suasana Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di ruang guru SMP Negeri 10 Yogyakarta. (DOK SMP NEGERI 10 YOGYAKARTA )

Budi mengatakan, Kota Yogyakarta saat ini belum termasuk zona hijau. Karena itu, pembelajaran dilaksanakan dengan pola pembelajaran jarak jauh atau PJJ.

Saat ini kondisi satuan pendidikan dari jenjang TK/RA berjumlah 222 disusul SD/MI (164) dan SMP/MTs (66) serta satu sekolah lagi masih dalam proses perizinan Totalnya sejumlah 452 satuan pendidikan. Sedangkan jumlah siswa TK/RA (11.820), SD/MI (41.490) dan SMP/MTs (24.018). Jumlah seluruhnya 77.328 murid.

Budi menambahkan, pembelajaran di Tahun Pelajaran 2020/2021 belum ada pembelajaran tatap muka di sekolah. Proses pembelajaran dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau belajar dari rumah (BDR). Metode pembelajaran dengan daring, luring dan kombinasi antara keduanya.
Pelaksanaan pembelajara disesuaikan dengan format daring dengan waktu sesuai ketentuan. Pembelajaran mengutamakan proses aktivitas yang mendukung pencapaian kompetensi. Tidak melakukan pemberian tugas yang mengharuskan bantuan orang tua.

PENDAMPINGAN: Pembelajaran dengan pendampingan ke rumah siswa yang dilakukan MTs Negeri 1 Yogyakarta. Proses pembelajaran dilakukan secara variatif dan mencakup kegiatan penilaian, sikap, pengetahuan serta keterampilan.(DOK MTS NEGERI 1 YOGYAKARTA)

Terkait pemetaan materi, Budi mengatakan telah disusun berdasarkan hasil pemetaan yang disusun sekolah atau musyawarah guru mata pelajaran (MGMP). Proses pembelajaran dilakukan secara variatif dan mencakup kegiatan penilaian, sikap, pengetahuan serta keterampilan.

Di samping itu juga diadakan sosialisasi silabus dan proses penilaian melalui berbagai metode. Sosialisasi disampaikan ke orang tua dan siswa. Sekolah memberikan kesempatan orang tua dan siswa memberikan masukan atas sistem yang dilakukan. Masalah lainnya terkait sosialisasi teknik presentasi.

Ini agar orang tua dan siswa memahami sistem presentasi yang digunakan. Dengan begitu dapat menyampaikan teknis cara permohonan izin tidak mengikuti pembelajaran karena alasan tertentu. Terhadap pengaturan kelas darling, pembentukan kelompok kelas dengan memakai media WhatsApp (WA). Wali kelas bertindak sebagai admin dan koordinator pembelajaran di kelasnya. Memasukkan guru-guru yang mengajar dalam setiap kelas ke dalam grup.

Di bagian lain, kepala dinas pendidikan memahami belum semua guru familiar dengan moda pembelajaran online. Motivasi belajar mandiri anak belum optimal. Dari siswa dan orang tua muncul keluhan jaringan dan keterbatasan alat seperti ponsel, komputer dan laptop. “Koneksi internet sekolah kurang bagus dan peran orang tua kurang maksimal. Itu juga menjadi persoalan,” bebernya.

Sekolah juga menghadapi masalah akibat PJJ dan BDR ini. Target pembentukan karakter siswa belum dapat dilaksanakan secara optimal. Bagi sekolah swasta, pembayaran SPP siswa menjadi kurang lancar.

PJJ memiliki beberapa kelemahan. Di lapangan, terang Budi, ternyata tak semua materi pelajaran dapat disampaikan lewat PJJ. Contohnya mata pelajaran matematika, IPA dan PJOK. Hal ini menyebabkan guru kurang fokus dalam pembelajaran. Guru juga belum memiliki desain baku tahap-tahap pembelajaran daring.

Budi mengakui selama PJJ dan BDR siswa mengalami kejenuhan. Kesehatan mata terganggu. Kendalanya lain kadang tidak memiliki kuota internet. Bahkan ada yang tidak punya HP. Ada juga HP digunakan bersama dengan orang tua sehingga anak ketinggalan informasi. “Masalah yang dihadapi siswa tidak leluasa minta penjelasan guru ketika ada kesulitan materi pembelajaran,” ungkapnya.

BLANDED LEARNING: Kombinasi aktivitas pembelajaran online (e-learning) dengan aktivitas pembelajaran tatap muka dengan wali kelas (kiri) dan guru inklusi di SMP Negeri 10 Yogyakarta.(DOK SMP NEGERI 10 YOGYAKARTA )

Menyikapi berbagai masalah tersebut, Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta menawarkan berbagai solusi. Antara lain sosialisasi program sekolah dan sistem yang dipakai untuk pembelajaran kepada orang tua siswa.

Beberapa siswa yang tak punya alat/sarana belajar diadakan pendampingan khusus. Sesekali datang ke sekolah menggunakan alat/sarana sekolah. Melaksanakan program guru kunjung ke rumah siswa bagi murid yang mengalami kendala belajar. Orang tua atau anak mengambil materi tugas untuk satu minggu dan mengumpulkan pada minggu berikutnya. Mengadakan pelatihan bagi guru tentang pemetaan materi.

Solusi lainnya dengan menggunakan aplikasi pembelajaran online ke guru dan siswa. Meningkatkan kapasitas internet sekolah. Memberikan bantuan pulsa ke guru dan siswa sesuai ketentuan yang ada. (kus/gp)

Jogja Utama