RADAR JOGJA – Masuknya musim hujan kerap diiringi meningkatnya potensi bencana. Begitu pula dengan kenaikan status Gunung Merapi dalam sepekan terakhir. Semua potensi bencana ini harus diantisipasi untuk meminimalisir jatuhnya korban jiwa maupun materi.

Wali Kota Jogja, Haryadi Suyuti (HS) mengklaim seluruh kampung di kota Jogja terutama yang sudah berstatus Kampung Tangguh Bencana (KTB) sudah mengaktifkan jalur komunikasi dan koordinasi. Pengecekan baik logistik maupun kesiapan peralatan penanggulangan bencana juga sudah dilakukan. “Termasuk kita sudah menjalin komunikasi dan koordinasi dengan jajaran terkait. Dalam berbagai kondisi kita harus siap,” katanya usai apel siaga Operasi Aman Nusa II Progo di Embung Klitren Gondokusuman Kamis (12/11).

Meski, potensi kenaikan status Gunung Merapi tidak berdampak langsung ke kota. Namun, perlu diwaspadai dan antisipasi adalah dampak sekunder banjir lahar dingin di beberapa titik wilayah yang juga tak luput dari antispasi. Menyusul, masuknya musim hujan ini. “Kita semua berharap tidak sampai terjadi bencana. Tetapi semua potensi itu harus diantisipasi,” jelasnya.

Potensi bencana yang perlu diantisipasi adalah bencana alam apapun bentuknya. Baik banjir, tanah longsor, angin kencang maupun pencurian dalam konteks bencana alam dan lain sebagaianya. Apel siaga tersebut dikoordinasikan oleh Polresta Jogja yang sebelumnya juga telah menggelar apel di tingkat kecamatan atau polsek. Kegiatan ini sekaligus merupakan bentuk kesiapan jajaran Polresta Jogja dalam turut serta ambil bagian upaya kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana. Dalam apel turut digelar simulasi penanganan dampak banjir di Kali Belik mulai evakuasi hingga pengamanan rumah warga yang ditinggalkan mengungsi. “Upaya ini pun untuk menunjukkan warga supaya tenang. Konsolidasi dengan Muspika juga harus baik sehingga tidak gagap tetapi siaga ketika terjadi bencana,” pungkasnya.

Sementara, Kapolresta Jogja, Kombes Pol Purwadi Anggoro mengaku sudah menyiapkan dua pertiga personelnya untuk membantu masyarakat. Dari total 1.400 personel, sebanyak 900 personel di antaranya memiliki tugas tambahan untuk bergabung dengan relawan jika sewaktu-waktu terjadi musibah. Tindakan yang akan dilakukan oleh personel Polri pun sudah diatur melalui prosedur.

Untuk pengamanan tingkat pertama ialah membantu proses evakuasi, penyiapan barak pengungsian, pendataan hingga dapur umum. Sedangkan pengamanan baik terbuka dan tertutup juga akan dilakukan terhadap lokasi yang ditinggalkan oleh pengungsi. “Masyarakat tidak perlu khawatir. Rumah yang ditinggalkan akan kami jaga. Kita siap mengamankan diri warga dan harta benda masing-masing ketika ada bencana,” imbuhnya. (wia/bah)

Jogja Utama