RADAR JOGJA – Jogja International Heritage Festival (JIHF) menjadi salah satu rangkaian kegiatan yang digelar untuk melestarikan warisan budaya Indonesia. Salah satu wujudnya adalah kesenian wayang yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).

JIHF bertajuk Jejak Setapak Wayang Tradisi Nan Terkembang digelar pada 9-10 November. Perhelatan itu terdiri dari beragam agenda seperti pemutaran film berjudul Jejak Setapak Wayang, Tradisi Nan Terkembang, serta pergelaran dalang anak dan dalang remaja. Ada pula webinar internasional dengan menghadirkan narasumber dari akademisi hingga budayawan baik lokal maupun mancanegara.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY Sumadi mengatakan, wayang telah ditetapkan menjadi warisan budaya dunia tak benda oleh UNESCO sejak tahun 2003. Sejak saat itu, wayang menjadi ekspresi budaya lokal yang terus dilestarikan dan dikembangkan.
Penyelenggaraan JIHF menjadi salah satu rangkaian kegiatan untuk memperingati hari Wayang Dunia yang jatuh tiap 7 November. Tanggal itu juga menjadi tanggal penetapan wayang sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO.
Penyelenggaraan JIHF menjadi salah satu upaya untuk menyelamatkan dan melestarikan warisan budaya Indonesia, khususnya wayang. “Kami memilih budaya wayang untuk dapat melengkapi rangkaian kegiatan Hari Wayang. Kegiatan yang digelar berfokus pada pengembangan wayang,” jelasnya.
Dinas Kebudayaan DIY terus berkomitmen untuk terus menggandeng beragam pihak. Khususnya, pecinta wayang untuk memelihara dan mengembangkan kesenian wayang.

“JIHF juga akan menyajikan pagelaran wayang di tiap generasi dan kreasi wayang yang berkembang di DIY,” katanya.

Menurut Sumadi, semakin banyak ragam baru wayang yang tercipta akan menjadi bagian pilihan untuk merawat wayang agar dapat memiliki daya survival seiring berkembangnya zaman. (tor/amd)

Jogja Utama