RADAR JOGJA – Harusnya penerapan KTR di Malioboro dilaksanakan Maret lalu. Karena pandemi Covid-19, deklarasinya baru dilaksanakan Kamis di Hotel Grand Inna Malioboro Kamis (12/11). KTR ini sekaligus juga menjadi bagian dari penanggulangan Covid-19.

Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi (HP) mengatakan tidak hanya protokol kesehatan (prokes) 4 M yaitu memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan yang harus dijalankan masyarakat demi tumbuh kembangnya aktivitas sosial ekonomi kota Jogja. Ada satu prasyarat yang juga harus dirubah perilaku masyarakatnya yaitu 1 TM (tidak merokok) di Malioboro. “Ketika sudah KTR (kawasan tanpa rokok) bukan berarti di Malioboro tidak boleh merokok, tapi tidak boleh sembarangan merokok. Di Malioboro hanya boleh merokok di tempat-tempat tertentu yang sudah kami tetapkan,” katanya.

Ada empat titik tempat khusus merokok (TKM) yang disediakan di sepanjang Malioboro. Mulai dari TKP Abu Bakar Ali (ABA), sisi utara Mal Malioboro dan toko Ramayana, serta lantai tiga Pasar Beringharjo. TKM disedikan berupa ruangan atau kawasan terbuka dilengkapi fasilitas pendukung lainnya.
Upaya ini dilakukan Pemkot Jogja tidak lain untuk menjaga agar orang yang datang ke Malioboro merasa aman dan nyaman. Tidak hanya mereka bisa menikmati Malioboro melainkan juga terjaga kesehatannya. Baik dari prokesnya sebagai antisipasi agar terhindar dari sebaran Covid-19. Juga menciptakan Malioboro sesuai yang diatur dalam Perda nomor 2 tahun 2017 tentang KTR, yakni kawasan destinasi wisata harus memiliki KTR.

Selain itu, lanjut HP, merokok juga dapat berpotensi terhadap sebaran Covid-19. Dari potensi droplet atau air liur yang menempel pada puntung rokok yang tidak dihancurkan memiliki potensi menyebarkan virus dan masih bertahan. “Sebenarnya lebih berbahaya ketika melihat puntung rokok tersebar dimana-mana. Tapi kami sedang mencoba menjadikan malioboro kawasan yang tidak ada potensi sebaran virus dan menjaga kesehatan masyarakat,” jelasnya.
Sembari sosialisasi berjalan, termasuk mempersiapkan tahapan-tahapan lanjutan seperti tidak menutup kemungkinan untuk menambah KTR selain destinasi wisata Malioboro. “Bertahap Malioboro dulu seperti apa, seperti tahapan prokes. Harapan kami juga bisa menular (KTR) ke destinasi-destinasi wisata lainnya,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Jogja, Emma Rahmi Aryani mengatakan momentum peringatan hari kesehatan nasional (HKN) ke-56 sengaja dibuat untuk mengubah perilaku merokok masyarakat. Selain prokes 4M ditambah dengan 1 TM yaitu tidak merokok menjadi kunci pencegahan penyebaran Covid-19. “Perilaku merokok harus dirubah dan terus ditingkatkan. Ini juga untuk meningkatkan pemahaman dan kepedulian terhadap upaya penyebaran Covid-19,” katanya. “Kalau dari sisi fasilitas pendukung TKM, memang itu berproses. Karena kita harus advokasi dengan pemilik tempat umum atau persil, yang kami dapatkan baru empat titik itu,” lanjutnya. (wia/pra)

Jogja Utama