RADAR JOGJA – Parade ketoprak memasuki hari kedua. Kesenian rakyat yang dilaksanakan mulai 10-12 November ini digelar secara virtual dan dapat disaksikan di akun YouTube Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta.

Peserta telah mempersiapkan pementasan dengan maksimal, hingga dapat menyajikan pementasan yang luar biasa dalam waktu yang terbatas, yaitu sekitar satu bulan.
Ada tujuh kelompok rintisan kelurahan budaya (RKB) yang tampil setiap harinya. Mereka yakni, RKB Prawiro Dirjan, RKB Semaki, RKB Warungboto, RKB Tegalpanggung, RKB Wirobrajan, RKB Prengan, RKB Gunngketur.
Kisah dari setiap pementasan kelompok RKB sangat menarik dan beragam. Ada yang mengambil sejarah, ada pula yang mengambil cerita rakyat dengan pengemasan yang disesuaikan agar menarik.
Namun, dibalik pementasan yang luar biasa ini ada beberapa kesulitan yang dialami beberapa sutradara. Diantaranya adalah waktu pementasan yang dibatasi antara 30-35 menit sehingga sutradara harus cerdas dalam pengambilan bagian cerita agar pesan dapat tersampaikan.
Sementara ada pula kelompok RKB memiliki kesulitan dalam hal mengatur dan membentuk karakter ketoprak kepada anak muda juga terbilan sulit bagi pemula.
Selain itu, ada beberapa pemain dari kelompok RKB yang memiliki kesibukan pribadi sehingga ada kesulitan sendiri saat latihan yang waktunya terbatas, yaitu sekitar 1 bulan dengan jam latihan kurang dari 10 kali.
Diantara pentas-pentas ketoprak itu, kelompok RKB Pawiro Dirjan yang menceritakan tentang kehidupan orang kecil yang penuh dengan konflik karena tekanan ekonomi.
Sedangkan Kelompok RKB Semaki mengambil tema cerita yang berbeda. Cherly Merliana sebagai sutradara dan pembuat naskah dari RKB Semaki mengangkat kisah cinta yang tidak berjalan lancar karena ego. Kisah ini mengandung nilai moral yang mendalam. “Bila sudah menyangkut ego seseorang tidak akan bisa dinasehati lagi. Sehingga segala kebaikan tidak akan didengarkan” jelas Cherly.
Dalam setiap pementasan, masing masing kelompok menampilkan keunikan kelompoknya. Salah satunya adalah kelompok RKB wirobrajan yang disutradarai oleh Ahmad Hafial Hazfi atau lebih dikenal dengan Hasfi Amaralaya yang menyajikan pementasasn dengan model sampa’an. Yaitu pengrawit dan pemain dalam satu panggung. Sehingga, pengrawit juga turut berperan memberikan respon pada adegan.
Ada pula kelompok RKB Tegalpanggung yang disutradarai oleh Ahmad Kusnan Rosyid Anwar menyajikan kisah sejarah di kampunya, dikemas dalam kisah yang menarik. “Kisahnya merupakan sejarah di kampung, dan kebetulan juga kami boleh menampilkan cerita rakyat setempat. Kami mengemas seperti atau mirip dengan kejadian yang asli” ujar Kusnan. (*/mg3)

Jogja Utama