RADAR JOGJA – Untuk Melestarikan nilai-nilai kebudayaan yang ada di masyarakat khususnya seni pertunjukan, Dinas Kebudayaan Kota Jogjakarta menggelar Parade Ketoprak Rintisan Kalurahan Budaya (RKB) se-Kota Jogjakarta 2020.

Parade Ketoprak RKB se-Kota Jogjakarta dilaksanakan mulai Selasa (10/11) hingga besok (12/11), bertempat di gedung Basiyo XT Square. Karena acara digelar secara virtual, penonton dapat menyaksikan acara ini di akun YouTube Dinas Kebudayaan Kota Jogjakarta.

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Jogjakarta Yetti Martanti, SSos, MM. menyampaikan, di era pandemi Covid-19 banyak keterbatasan seperti larangan mengundang penonton sehingga acara digelar secara virtual. Tetap dengan mematuhi protokol kesehatan, dan telah melapor kepada Satgas Covid-19 Kota Jogjakarta.

“Kami berharap, walau diadakan secara virtual dan tidak bisa mengundang penonton secara langsung, ini bisa menjadi momentum yang baik untuk pelaku seni budaya yang ada di kota Jogja agar tetap berkarya. Dapat dilihat masyarakat secara lebih luas karena ini secara online,” ujar Yetti Martanti. Parade ketoprak sendiri diikuti 21 kelurahan yang sifatnya dilombakan, sebagai pembinaan dan pelestarian.

Sekretaris Forum Komunikasi RKB Jogjakarta Hendi Setyo Yulianto menjelaskan, dari 45 kelurahan, 21 masih kategori RKB. Sedangkan dua ketegori kelurahan budaya ada dua.

Parade ketoprak ini mengusung tema-tema lokal yang ada di Jogja. “Kami mencoba mengangkat tema sejarah lokal seperti folklor, legenda, dan toponim yang masih dalam koridor cerita lokal,” ungkap Hendi.

Dalam parade ini, kata Hendi, pementasan harus memenuhi beberapa syarat utama, yakni berbahasa Jawa, serta menggunakan musik pengiring berupa gamelan. Pertunjukan, bisa dengan live maupun recording. Kemudian ada unsur tembang atau lagu Jawa. Adapun Keprak digunakan sesuai dengan kebutuhan pemanggungannya.

Dalam acara ini, lanjut Hendi, usia maksimal peserta adalah 40 tahun. Naskah merupakan cerita lokal dari wilayah setempat dan sekitarnya. Tata pelaksanaan tetap menggunakan Protokol Covid-19, dan maksimal pemain dalam satu grup 30 orang.

“Harapan kami acara ini dapat diteruskan dan ditumbuhkembangkan sebagai ajang pembinaan. Terutama kepada generasi muda untuk nguri-nguri atau melestarikan kebudayaan Jawa. Karena ketoprak yang kita kemas hari ini diberi keleluasan kepada penggarap panggungnya,” terang Hendi Setyo.

Salah satu peserta adalah grup parade ketoprak dari Gedong Kiwo yang menceritakan pembangunan masjid peninggalan Kraton. Yang didirikan oleh gusti pangeran III ditengah kampung yang penuh maksiat dan kejahatan. (*/mg3/laz)

Jogja Utama