RADAR JOGJA – Gubernur DIJ Sri Sultan Hamengku Buwono  X menerima kedatangan sejumlah mahasiswa yang terhimpun dalam Forum Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) DIJ, Senin (2/11). Bertempat di Dalem Ageng, Kompleks Kepatihan. Sekretaris Provinsi DIJ Kadarmanta Baskara Aji menjelaskan, pada pertemuan tersebut Gubernur  berdialog mengenai aksi para demonstran UU Cipta Kerja yang sempat rusuh pada 8 Oktober lalu.

Peristiwa tersebut mengakibatkan ketidaknyamanan bagi berbagai pihak salah satunya mahasiswa. Menanggapi hal tersebut, Aji menegaskan bahwa pemerintah tidak pernah melarang siapapun untuk melakukan aksi demonstrasi terkait kebijakan atau apapun. Selama sudah ada pemberitahuan ke kepolisian.

“Tadi Pak Gubernur menegaskan juga, teman-teman mahasiswa juga harus pandai membaca situasi. Kalau sekiranya dalam menggelar aksi berpotensi untuk ditunggangi pihak-pihak tertentu itu besar, maka diminta untuk menunda. Dengan begitu meminimalisir anarkisme seperti yang terjadi kemarin,” jelasnya.

Menurut Aji, mahasiwa sudah seharusnya bersikap kritis untuk membantu penyelenggaraan pemerintahan agar lebih baik. Kepedulian mahasiswa juga diperlukan guna menjadi bibit unggul untuk kualitas pemerintahan di masa depan. Namun, dalam membangun sikap kritis tersebut, mahasiswa tidak boleh larut dalam kegiatan lain sehingga melupakan tugas utamanya yakni belajar.

“Beliau (Gubernur DIJ) tidak menginginkan teman-teman mahasiswa ini nanti pulang tanpa membawa ijazah. Hal itu akan sangat mengecewakan orang tua di kampung halaman. Jadi mereka harus bisa membagi waktu dan fokus,” tutur Aji.

“Pada prinsipnya, kami masyarakat DIJ siap menjadi orang tua kedua bagi temna-teman mahasiswa rantau sehingga mereka bisa betah dan nyaman belajar di sini, cepat lulus dan membangun daerah asalnya,” sambungnya.

Koordinator BEM se-DIJ Muhammad Asfar mengatakan pihaknya merasa perlu meluruskan kejadian kerusuhan pada aksi tersebut kepada Gubernur DIJ. Asfar menegaskan, secara kelembagaan pihaknya tidak terkait dengan kerusuhan tersebut. Diabpun menyayangkan kejadian tersebut karena tidak mencerminkan kultur Jogja yang merupakan miniatur negara dan penuh berisi kaum intelektual.

Asfar menegaskan para demonstran murni melakukan aksi demi kepentingan masyarakat. 

“Dari pihak BEM DIJ melakukan aksi demonstrasi secara damai. Tidak ada sedikipun niat untuk melakukan aksi anarkisme,” tegasnya. (sky/tif)

Jogja Utama