RADAR JOGJA – Pandemi Covid-19 memberi pukulan berat bagi Kota Jogja, yang selama ini sangat menggantungkan pemasukan dari sektor pariwisata. Bahkan, pertumbuhan ekonominya pun terdampak cukup dalam.

Asisten Sekretaris Daerah (Sekda) Bidang Perekonomian Kota Jogja, Kadri Renggono, mengatakan Pemkot Jogja telah menyiapkan strategi atau langkah dalam mengatasi permasalahan pemulihan ekonomi. “Kami sudah siapkan supaya pertumbuhan ekonomi kembali pulih,” katanya.

Koordinator Penanganan Covid-19 Bidang Pemulihan Ekonomi itu menjelaskan beberapa upaya-upaya tersebut diantaranya menjaga daya beli masyarakat harus tetap jalan. Selama ini sudah ada Bantuan Langsung Tunai (BLT). Pelaku usaha kecil mikro (UKM) harus mampu memanfaatkan teknologi untuk mengubah cara pemasaran. Dan terbaru, ada keberpihakan juga dari pemerintah pusat pada hotel atau restoran, dengan alokasi lebih kurang Rp 23 miliar atau hibah pariwisata yang akan dibagikan. “Yang kita kerjakan adalah memverifikasi. Pak Wawali (Heroe Poerwadi) juga selalu menekankan itu. Bahkan infonya, dari pusat juga akan menerapkan sertivikasi hotel, restoran dan unit usaha mana saja yang sudah menerapkan protokol kesehatan. Ya, dalam pemulihan ekonomi itu harus menomorsatukan protokol kesehatan,” ujarnya.

Menurutnya dampak bantuan yang dikucurkan oleh pemerintah dalam rangka peningkatan daya beli masyarakat cukup terasa efeknya. Seperti, saat ini sudah nampak investasi mulai naik. Jumlah wisatawan juga mengalami kenaikan, meskipun sempat merosot pada Agustus hingga September. “Tapi yang jelas dampaknya sudah mulai kelihatan itu,” jelasnya.

Maka, untuk upaya pemulihan ekonomi ini perlu memperkuat alokasi dari biaya tidak terduga (BTT) Pemkot Jogja dan memilih sektor-sektor yang perlu diperkuat. Salah satunya di sektor pariwisata, sebesar Rp 33 miliar termasuk dari pusat. Ini juga masuk dalam alokasi BTT. Kemudian, jika ditambahkan dari instansi lainnya, bisa mencapai sekitaran Rp 80 miliar. Sekarang ini, total BTT di Pemkot yang masih tersedia lebih kurang Rp 240 miliar. “Kami melihat saat ini UKM yang harus diperkuat. Terutama yang mikro. Tentunya, banyak sekali hal-hal yang harus kita lakukan di sana, selama masa pandemi ini,” sambungnya.

Namun demikian, kebijakan untuk mendorong pemanfaatan BTT dalam rangka pemulihan ekonomi saat memasuki 2021 nanti harus menunggu dari pemerintah pusat. “Termasuk kemudian kita harus menyiapkan berapa untuk penyediaan vaksin,” paparnya.

Namun, melihat kondisi sekarang untuk beberapa bidang dimungkinkan masih tetap dilakukan. Seperti untuk sektor pariwisata dan sebagainya. “Tapi mudah-mudahan tahun depan bisa membaik, aktvitas kembali berjalan normal dengan tetap menjalankan prokes. Target kita nggak tinggi-tinggi bisa dua persen,” imbuhnya. (wia/pra)

Jogja Utama