RADAR JOGJA – Menyambut libur panjang di pekan terakhir bulan Oktober ini, Dinas Pariwisata DIJ melakukan berbagai langkah untuk kegiatan wisatawan. Kepala Dinas Pariwisata DIJ Singgih Raharjo mengatakan, pihaknya telah mendorong Association of The Indonesian Tours And Travel Agencies (ASITA) DIJ untuk menyiapkan paket-paket wisata. Hingga saat ini tercatat sudah ada 94 destinasi wisata di DIJ yang bisa dikunjungi.

“ASITA kami dorong untuk menyiapkan paket-paket wisata kecil untuk pangsa pasar domestik, bahkan lokal,” ujarnya Kamis (29/10).

Pihaknya juga mengajak berbagai komunitas budaya dan Dinas Kebudayaan provinsi maupun kabupaten/kota untuk menggelar pertunjukan-pertunjukan kecil yang bisa dinikmati para wisatawan yang berkunjung ke Jogjakarta. 

Terkait akomodasi, Singgih mengklaim tidak ada masalah. Sebab para manajemen hotel menyampaikan okupansi hotel dari tanggal 28 Oktober mulai terisi antara 40 persen hingga 80 persen.

“Bahkan 100 persen dari kamar yang dijual, ini menunjukkan apa yang selama ini kita bangun dan apa yang selama ini kita siapkan sudah menuai hasilnya. Wisatawan sudah percaya diri untuk mengunjungi Jogja karena protokol sudah dilakukan secara konsisten,” ungkapnya.

Sementara itu Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIJ Deddy Pranowo Eryono menuturkan, berdasarkan observasi yang telah dilakukan ada kenaikan okupansi hotel. Dari sebelumnya 45 persen per hari, kini menjadi 70 persen per hari ini.

“Kami menargetkan sekitar 80 persen, merata di seluruh DIJ untuk semua kelas, baik bintang ataupun nonbintang,” ujarnya.

Pihaknya optimistis okupansi mencapai target 80 persen meski di masa pandemi.

Deddy memaparkan, dari total 300 hotel, baru 132 hotel yang beroperasi. Namun okupansi hotel sektor tengah sudah terisi 100 persen, sektor utara 80 persen, sektor barat 80 persen, sektor selatan 70 persen, dan sektor timur 60 persen. 

Guna mengantisipasi penularan Covid-19,  wisatawan dari zona merah wajib melakukan rapid tes sebagai pelaksanaan protokol kesehatan yang ketat. 

“Kami sudah sepakat jangan sampai ada kluster di hotel dan restoran,” tandasnya. (sky/tif)

Jogja Utama