RADAR JOGJA – Sebagai kawasan percontohan, penegakan prokes semakin ditingkatkan di Malioboro. Tak cukup hanya pakai masker tapi juga dengan face shield. Jajaran Polresta Jogja pun ikut turun langsung dengan membagikan face shield ke pengunjung Malioboro.

Kapolresta Jogja Kombes Pol Purwadi Wahyu Anggoro bersama Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti, Dandim 0734 Kota Jogja kolonel Arm. Tejo Widhuro dan Kepala PT KAI Daop 6 Jogja Asdo Atrivianto turun langsung ke Malioboro, Minggu pagi (18/10).

Menurut Purwadi, aparat kepolisian dalam hal ini juga turut memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Agar masyarakat Jogja pada khususnya bisa mendapatkan jaminan keamanan dan kenyamanan. Sehingga bisa menjalankan aktivitas ekonomi di malioboro. “Ini program kami ketiga berupa Malioboro ber-face shield. Intinya kami ingin memberikan kenyamanan kepada masyarakat supaya pariwisata bisa meningkat, orang yang datang ke Malioboro pun merasa aman dan nyaman,” katanya usai simbolis penyerahan face shield kepada pelaku usaha dan pengendara di Pos Teteg Stasiun Tugu Kamis (18/10).

Kegiatan dilaksanakan dengan membagikan 7.500 face shield dan 5.000 masker medis kepada masyarakat di kawasan Malioboro. Guna mencegah penularan virus Covid 19, meningkatkan perekonomian masyarakat dan mendukung pertumbuhan pariwisata Kota Jogja, khususnya kawasan Malioboro.

Pelaksanaan program Malioboro ber-face shield ini sebagai wujud dukungan tugas pemerintah dalam menerapkan adaptasi kebiasaan baru guna menjaga kesehatan, kegiatan ekonomi dan pariwisata. Terlebih kawasan Malioboro adalah jalur utama sekaligus etalase pariwisata di Kota Jogja maupun luar DIJ.

Sedang Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti (HS) mengatakan kualitas prokes yang ditingkatkan yaitu melalui malioboro ber-face shield. Selain memasuki kawasan malioboro wajib bermasker, kualitas dan kuantitas ditingkatkan dengan menggunakan face shield. “Sekarang ini bermasker saja tidak cukup, makanya Malioboro juga harus ber-face shield. Bermasker sudah hal wajib dilakukan manakala masyarakat memasuki wilayah Malioboro,” katanya.

Terutama face shield ini diperuntukkan kepada para pelaku usaha di kawasan malioboro. Maka, sebanyak 7.500 face shield dibagikan kepada para pelaku usaha maupun pengendara yang melintas. Tidak hanya face shield, sebanyak 5.000 masker juga dibagikan tanpa dipungut biaya. “Face shield ini tolong digunakan terutama kepada teman-teman di Malioboro, jangan cuma ditaruh doang,” ujarnya.

Menurutnya, pemakaian masker saja tidak cukup di kawasan Malioboro. Karena, di pusat kota Jogja itu terdapat aktivitas yang terlalu tinggi baik aktivitas usaha, wisata, maupun aktifitas lainnya. Sehingga, pertimbangan inilah yang perlu dilakukan pemkot beserta lintas sektor lain untuk peningkatan kualitas dan kuantitas penyelenggaraan prokes dengan menggunakan face shield. Harapannya, tidak ada lagi kasus baru yang muncul di jalur utama kota Jogja dimana dikenal sebagai kota pariwisata, pendidikan, dan budaya. “Ini untuk menjaga supaya Jogja sound-nya adalah aman. Aman berjualan, bertransaksi dan aman bagi pengunjung sekalian. Proteknya adalah warga yang ada di Jogja,” jelasnya.

Sedangkan, bagi warga dari luar Jogja diminta untuk mematuhi prokes. Patuh terhadap prokes juga wajib ditingkatkan di wilayah Malioboro. “Selamat datang di kota Jogja tapi terapkan protokol kesehatan. Karena tidak ada satupun orang yang pengen sakit dan tidak ada satupun orang yang ingin menularkan sakitnya,” pesannya.

Wakil Ketua Koperasi Tri Dharma, Paul Zulkarnaen menuturkan komunitas PKL siap menyambut adaptasi kebiasaan baru dengan peningkatan kualitas dan kuantitas prokes yang ada. Meski begitu, sosialisasi dan edukasi selalu ditekankan kepada para anggotanya agar selalu menjaga jarak, mencuci tangan, memakai masker. Dan ditambah saat ini memakai face shield. “Kami berkumlul di sini untuk siap menjalankan ekonomi. Tapi kami juga tunjukkan bahwa malioboro tidak perlu dikhawatirkan untuk dikunjungi,” imbuhnya. (wia/pra)

Jogja Utama