RADAR JOGJA – Proses perbaikan cross drain Selokan Mataram di Dusun Mayangan Trihanggo Gamping telah selesai. Tahapan terkini adalah menunggu keringnya beton penutup box culvert. Selanjutnya pengairan dapat berlangsung normal pekan depan, Senin (26/10).

Kabid Pelaksana Jaringan Pemanfaatan Air Balai Besar Wilayah Serayu Opak (BBWSO) DIJ Jateng Suyanto memastikan perbaikan berjalan cepat pasca kerusakan pada Rabu (14/10). Diawali dengan menutup pintu air Karangtalun di Kabupaten Magelang.

“Proses perbaikan cor beton sudah selesai, saat ini hanya menunggu proses kering saja. Selokan Mataram sudah dibuka Senin besok (26/10), sudah mengalir,” jelasnya, Senin (19/10).

Imbas dari kerusakan ini, sejumlah kebun persawahan, kolam ikan dan permukiman warga setempat terendam air. Efek jangka panjang, suplai pengairan kolam ikan dan pertanian terhenti.

Pasca amblesnya cross drain, perbaikan dilakukan selang sehari setelahnya (15/10). Diawali dengan pengeringan saluran air Selokan Mataram. Berlanjut dengan identifikasi kerusakan cross drain yang melintang di bawah Selokan Mataram.

“Pengertian 24 jam penuh setiap harinya. Kami prioritaskan karena Selokan Mataram ini penting untuk irigasi perikanan dan pertanian. Jangan sampai Selokan Mataram jadi sumber masalah tapi harus jadi sumber kemakmuran,” katanya.

Sekretaris Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman Rofiq Andriyanto tak menampik adanya kerugian di sektor pertanian dan perikanan. Selokan Mataram, lanjutnya, mengairi 3.350 hektar persawahan. Dengan total kelompok pertanian mencapai 232 kelompok.

Adapun kerugian di sektor perikanan dialami oleh 17 kelompok. Luasan kolam terdampak pasca mengeringnya aliran Selokan Mataram mencapai 12,55 hektar. Nominal kerugian sektor ini mencapai Rp 64 juta.

Dia memastikan DP3 Sleman tak memberikan ganti rugi. Terutama bagi sawah pertanian dan kolam terdampak. Sebab amblesnya cross drain Selokan Mataram sifatnya tak terduga.

“Secara khusus tidak ada ganti rugi. Tapi untuk perikanan bisa diantisipasi lebih dini kerugiannya dengan panen awal. Kalau yang sektor pertanian belum kami hitung,” ujarnya.

Terkait menurunnya debit air Selokan Mataram, dapat diantisipasi dengan adanya musim penghujan. Walau masih musim awal, namun suplai air dapat memenuhi kebutuhan pertanian. Tentu dengan catatan manajemen pengairan yang maksimal.

Dia berharap pulihnya pengairan Selokan Mataram tepat waktu agar dampak berkurangnya debit air tak berdampak lebih panjang. Terutama agar tak mengganggu stok pangan di Sleman.

“Sedikit terbantu dengan adanya musim penghujan, tapi memang beberapa titik. Harapan kami 26 Oktober, pengairan di Selokan Mataram bisa pulih dan optimal lagi,” katanya. (dwi/tif)

Jogja Utama