RADAR JOGJA – Komunitas pedagang kaki lima (PKL) dikagetkan dengan adanya seorang yang meninggal dunia di pedestrian sisi barat Malioboro. Meninggalnya seorang laki-laki ini di tengah komunitas PKL mengkampanyekan demo aman dan damai di depan Mal Malioboro Minggu (18/10).

Wakil Ketua Koperasi Tri Dharma Paul Zulkarnaen membenarkan adanya seorang yang meninggal dunia. Informasi ini diterimanya tepat komunitas PKL tengah menyerukan tolakan adanya demonstrasi yang bersifat anarkisme. “Pas kami yel-yel di depan mal menolak anarkis di malioboro pas yel itu kita bunyikan yes, saya langsung dipanggil sama orang ada yang meninggal dunia,” katanya.

Paul menjelaskan informasi itu diterima kurang lebih pukul 07.00 sebelum kegiatan kerjabakti dan penyemprotan dilakukan. Langsung pada saat itu, melakukan steril agar bebas dari kerumunan masyarakat. Sembari menghubungi pihak yang berwajib untuk penjemputan ambulans. Orang yang meninggal tersebut ditemukan di depan sebuah toko batik di Kawasan Pendestrian sisi barat Malioboro. “Saya tanya teman-teman PKL di sana beliau lagi duduk-duduk di kursi pedestrian dengan korek api di tangannya. Terus jatuh tertelungkup dan masih ada korek ditangannya, mungkin dia angin duduk atau jantung,” ujarnya yang menyebut penjemputan oleh dua mobil ambulans dengan personil APD lengkap.

Dipastikan, bahwa yang meninggal tersebut bukanlah bagian dari anggota komunitas PKL Malioboro. Paska kasus muncul di kelompok komunitaspun, para PKL sudah berbenah diri lebih disiplin terhadap protokol kesehatan. Setelah kejadian tersebut dipasang garis polisi mengitari area yang meninggal tersebut yang mengakibatkan jalan pedestrian tidak bisa dilewati sementara. Namun, para PKL masih bisa tetap berjualan seperti biasa. “Semoga bukan Covid-19. Tapi saya ini selalu kowar-kowar harus jaga jarak, pakai masker, cuci tangan meski kami berjualan. Jadi malioboro tidak dikhawatirkan untuk didatangi dan dikunjungi,” imbuhnya.

Terpisah, Kepala UPT Malioboro, Ekwanto mendapat laporan dari komunitas PKL bahwa orang yang meninggal tersebut sempat jalan-jalan dan duduk. Kemudian secara mendadak terjungkal. Diprediksi karena kondisi yang tidak fit sehingga terjatuh. “Itu sudah sering disini, lontang lantung. Tapi kami belum tahu pasti, tapi sudah sering kayak epilepsi itu katanya. Kami juga belum tahu hasilnya,” tambahnya.

Sedangkan, Kapolsek Gedong Tengen, Kompol Khundori mengatakan peristiwa tersebut pertama kali diketahui oleh karyawan toko. Saat itu saksi melihat korban 48 tahun itu yang awalnya sedang duduk-duduk di kursi pedestrian Malioboro, tiba-tiba terjatuh dari tempat duduknya. “Oleh kantor UPT langsung memanggil petugas satgas Covid-19 kota. Setelah pemeriksaan korban di lokasi kemudian langsung dievakuasi ke RS Bhayangkara,” katanya.

“Kenapa satgas Covid-19 karena ini ditemukan dalam keadaan tergeletak dan masih situasi pandemi. Jadi prosedurnya harus demikian untuk mengantisipasi penyebaran virus,” sambungnya.

Menurutnya, bahwa sebelum terjatuh tidak ada yang melihat atau mendengar korban yang merupakan warga Magelang itu mengeluhkan sakit di lokasi. Sebab tergelataknya korban juga masih dalam pendalaman. “Memang kesehariannya beliau menarik becak di jalan malioboro,” imbuhnya. (wia/pra) 

Jogja Utama