RADAR JOGJA – Kondisi permuseuman sempat terpuruk akibat pandemi Covid-19. Sebagian besar museum terpaksa menutup diri. Namun, pengelola telah beradaptasi. Selain penerapan protkol kesehatan, penyelenggaraan kegiatan yang dilaksanakan secara daring juga menjadi strategi untuk membuktikan bahwa museum masih hidup.

Awal Maret lalu, seluruh museum di DIY tutup total. Baru pada Juli dan Agustus, ada sejumlah museum yang memutuskan untuk beroperasi.

“Sudah berani membuka dan menunggu pengunjung, namun tetap mengutamakan prokes (protokol kesehatan). Museum harus bergerak dan beraktivitas karena di ada biaya operasional yang harus dipenuhi jadi harus berjalan,” jelas Kepala Seksi Permuseuman Dinas Kebudayaan DIY Wismarini.

Di sisi lain, Dinas Kebudayaan DIY telah menerjunkan 34 duta museum dan edukator ke museum-museum anggota Barahmus DIY. Ketika bertugas, mereka dituntut berpikir kreatif merancang strategi untuk menciptakan euforia positif serta meningkatkan minat masyarakat luas terhadap museum.

“Kemarin 34 duta meseum bergerak semua untuk membuat event luring maupun daring. Itu bertepatan saat momen Hari Museum Indonesia. Duta membuat event bertujuan untuk mengingatkan masyarakat, museum itu buka walaupun kunjungan belum terbuka secara rombongan,” paparnya.

Duta museum juga diminta mengulas koleksi milik museum di media sosial masing-masing museum. Harapannya dapat memunculkan rasa penasaran hingga ketertarikan masyarakat.

Edukator museum juga terus berusaha untuk mengedukasikan koleksi museum dengan rangkaian kegiatan webinar. “Walupun koleksi tidak diulas seacara tuntas, harapannya dapat menarik minat masyarakat terhadap koleksi museum,” jelasnya. (tor/amd)

Jogja Utama