RADAR JOGJA – Meski kondisi Covid-19 di Kota Jogja kembali melandai. Pemkot Jogja belum berencana membuka seluruh kegiatan belajar tatap muka di sekolah.

Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi (HP) mengatakan, masih banyak pertimbangan yang dimiliki pemkot Jogja sehingga pembelajaran jarak jauh dari rumah masih diterapkan. “Sampai saat ini kita masih melakukan pembelajaran dari rumah,” katanya belum lama ini.

HP menjelaskan ada berbagai pertimbangan yang dimiliki diantaranya meski kondisi Covid-19 di kota kembali melandai. Namun, di sekitar kota Jogja masih fluktuatif naik.  “Sebab siswa sekolah di Kota, banyak juga yang berasal dari daerah sekitar,” ujarnya.

Disamping itu, menjalankan seluruh kegiatan belajar tatap muka di sekolah juga wajib mendapat persetujuan dari para orang tua atau wali murid. Menurutnya, apalagi dalam konteks ini belum semua orang tua atau wali murid sepakat bahwa saat ini perlu dilakukan sekolah tatap muka. Akan tetapi saat ini, memang ada beberapa sekolah sudah mulai melakukan tatap muka sangat terbatas. “Karena sebenarnya meskipun siswa tidak ketemu di sekolah, selama ini mereka sudah ketemu di rumah atau tempat-tempat pertemuan bersama,” jelasnya.

Sementara itu, untuk mata pelajaran tertentu seperti baca tulis dan hitung setiap sekolah membuka konsultasi bagi siswa yang kesulitan masalah peralatan atau sarana prasarana daring. Maupun kesulitan dalam mengakses pembelajaraannya. “Tetapi dibatasi maksimal setiap pertemuan hanya 10 siswa dengan prorokol kesehatan yang ketat,” terangnya.

Terlebih saat ini kuota data bantuan pemerintah sudah terkirim kepada siswa masing-masing. Sehingga sebagian besar proses pembelajaran masih dilakukan secara daring. Bantuan kuota data tersebut sudah lebih dari 95 persen diterima siswa.

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Kota Jogja, Budi Santoso Asrori menambahkan pembelajaran tatap muka di sekolah memang belum ada secara normal. Ini karena resiko masih tinggi jika pembelajaran tatap muka dibuka kembali dalam waktu dekat ini. “Tapi kami membuka program konsultasi pembelajaran dengan skala sangat terbatas bagi anak-anak yang tidak bisa mengakses daring dan mata pelajarannya yang tidak bisa didaringkan,” katanya.

Dicontohkan mata pelajaran yang tidak bisa didaringkan khususnya bagi mata pelajaran tingkat dasar untuk siswa kelas 1 SD. Misalnya baca tulis dan hitung bagi anak-anak kelas 1 SD. “Kita sudah mendata ada berapa anak yang belum bisa membaca. Terus dipersilahkan ikut konsultasi pembelajaran, tapi tetap harus seizin orang tua,” imbuhnya. (wia/pra)

Jogja Utama